Tampilkan postingan dengan label binatang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label binatang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

DONGENG SEMUT dan BELALANG yang MALAS

Di sebuah tepi hutan yang lebat, tinggalah sekelompok koloni semut. Mereka bekerja keras siang dan malam dengan rajin dan tanpa kenal lelah. Saling menolong dan bergantian satu sama lain, itu semua mereka lakukan demi kesejahteraan kelompok mereka. Di tepi hutan itu juga tingal berbagai serangga lainya. Mereka juga bekerja dengan giat sebagai mana pekerjaan masing-masing.



Ada si Ring-ring laba-laba yang berfrovesi sebagai penenun. Dia menenun berbagai kain sutera yang indah dengan jaringnya untuk di jual dan dapat di gunakan sebagai mantel oleh paraserangga lain. Lalu ada si Mada si kaki seribu, dia bekerja mengantar para serangga ke tempat tujuan mereka dengan cepat.
Lalu ada juga Lola si lalat, dia bekerja sebagai tukang sampah, membersihkan sampah-sampah agar kawasan itu tetap bersih. Dan masih banyak lagi serangga-serangga lain dengan pekerjaan yang beragam. Tapi ada satu serangga yang sangat malas. Dia adalah si Kiko belalang. Dia memiliki ke inginan dan cita-cita yang tinggi. Tapi dia hanya suka berhayal dan bermimpi tanpa mau bekerja keras.

Dia sangat yakin akan kemampuanya, dan yakin akan berhasil. Sehingga pekerjaanya sehari-hari hanya berhayal dan mencoba menulis lirik-lirik lagu dan music dengan biolanya. Tentu saja karena dia bercita-cita menjadi seekor belalang pemusik yang terkenal. Tapi terkadang, keyakinan yang dia miliki tak di imbangi dengan bakat yang cukup dan tak mau menerima masukan dari orang lain. Dia merasa tak ada orang lain yang lebih tau akan music atau masa depanya, sehingga dia tak pernah mau menerima nasehat dari orang lain.

Waktupun terus berlalu dan musim terus berganti. Tak terasa musim gugur telah hamper usai dan mendekati musim dingin. Para semut dan binatang lain tengah giat bekerja keras untuk menyiapkan makanan sebagai persiapan di musim dingin. Tak terkecuali para semut. Para semut memang terkenal serangga yang paling rajin. Meski pekerjaan mereka hanya sebagai pengangku barang, mereka sangat giat bekerja dan selalu saling tolong menolong. Sedangkan si Kiko belalang masih saja asik dengan biolanya tanpa satu lagupun yang dapat dia ciptakan.

“Hai Kiko belalang, apakah kau tidak bekerja untuk persiapan di musim dingin?’. Tanya seekor semut pada suatu hari.
“Apa yang kau tahu? Kau itu tak sepintar aku. Aku ini adalah serangga yang memiliki bakat dan di takdirkan sebagai musisi besar. Tak seperti semut seperti mu yang di takdirkan sebagai kuli dan orang kecil. Dasar tak berguna.. hahaha”. Kata Kiko belalang dengan sombongnya.
“Tapi tanpa persiapan, kau akan kesulitan menghadapi musim dingin. Musim dingin sebentar lagi dating. Jika kau kurang persiapan, kau bisa kelaparan dfan bias mati. Aku hanya mencoba untuk menasehati mu kawan”. Kata semut itu dengan sabar.

“Jangan kau panggil aku dengan sebutan kawan, karena aku tak sudi berkawan dengan kasta rendah seperti mu. Dan calon orang besar seperti ku, juga tak butuh nasehat dari semut seperti mu. Sekarang pergi kau..!! Kau mengganggu konsentrasi ku dalam menciptakan lagu”. Dengan nada kasar si Kiko belalang mengusir semut yang baik hati itu.
Semut itupun kemudian meninggalkan si Kiko belalang dengan hati yang sangat kecewa. Nasehat baiknya sama sekali tak di anggap. Malah di caci dan di hina dengan semena-mena. Hingga semut itupun merasa sakit hati.

Ahirnya musim dingin tiba. Para serangga dan hewan-hewan lain tengah berhenti dari pekerjaanya dan tinggal di rumah mereka dengan nyaman. Dengan perbekalan yang cukup, mereka tak hawatir lagi dalam melalui musim dingin yang cukup panjang. Tapi nasib sebaliknya di alami oleh si belalang. Dia kelaparan dan mengemis makanan dari satu tempat ke tempat lain untuk bertahan hidup. Dia juga tak memiliki tempat tinggal sehingga dia harus tidur di sembarang tempat dan melawan hawa dingin yang menusuk tulang.

Hingga pada suatu hari, sampailah dia di rumah si semut yang dulu dia hina dan dia ejek.
“Hai semut sahabat ku, aku kelaparan. Maukah kau berbagi sedikit makanan untuk ku?”. Kata si belalang memelas.
“Ma’af, aku tak punya sahabat seorang pengemis seperti mu. Makanan ku hanya cukup untuk keluarga ku sendiri. Memang makanan mu di mana kok sampai kau mengemis?”. Tanya si semut. Sebenarnya dia mengenali belalang itu. Tapin karena rasa sakit hatinya, dia acuh dan pura-pura tak mengenalnya.

“Ma’af sahabat ku.. selama musim dingin dan musim gugur, aku sibuk menulis lagu. Sehingga aku tak sempat mencari bekal makanan”. Jawab si Kiko belalang.
“Apa kau sudah bias menulis lagu mu?”. Tanya si semut lagi.
“Aku sudah menghasilkan sebuah lagu..”. jawab si belalang dengan tersenyum dan sedikit bangga.
“Nah, kalau begitu.. waktunya sekarang kamu memainkan lagu ciptaan mu dan menari-nari dengan riang. Semoga saja lagu itu bisa membuat mu kenyang”. Kata si semut sambil menutup pintu rumahnya.

Si Kiko belalang hanya dapat berdiri tertegun di depan pintu. Dia menyesal dengan segala perbuatan dan sifat buruknya di masa lalu. Dia sangat menyesal dulu dia sangat angkuh, sombong, dan suka merendahkan orang lain. Kini giliran baginya untuk di rendahkan oleh orang yang dulu pernah dia hina. Tapi dia sadar, penyesalan kemudian tiada berguna. Dan mulai saat itu, si Kiko belalang belajar banyak hal. Dan dia berjanji akan berusaha menjadi lebih baik dan memperbaiki sifat-sifat buruknya.

TAMAT

Story by: Muhammad Rifai

Cerita Pendek KELINCI dan KURA-KURA

Pada cerita dongeng kali ini, blog dongeng sederhana ini akan sedikit berbagi tentang dongeng kelinci dan kura-kura. Cerita ini banyak mengandung pesan moral di dalamnya. Bahwasanya, setiap keberhasilan tak akan mampu di capai hanya dengan mengandalkan bakat, akan tetapi juga membutuhkan niat dan tekad yang kuat. Mari kita baca bersama cerita dongeng pendek  kelinci dan kura-kura berikut ini.



Di sebuah hutan yang lebat, ada seekor kelinci yang terkenal mampu berlari sangat cepat. Dia di juluki pelari tercepat di hutan itu, bahkan semua hewan juga mengakuinya. Tapi sayang, ketenaran yang di miliki si kelinci membuat dia menjadi sombong dan besar kepala. Dia selalu menyombongkan kemampuanya di depan tiap hewan yang di lewatinya. Dia selalu berlari dengan cepat, sehingga menerbangkan debu di sekitarnya dan membuat hewan yang di laluinya menjadi terbatuk-batuk.

Pada suatu hari, ada sekelompok hewan yang tengah bercakap-cakap. Mereka bercanda dan berbagi cerita tentang kisah-kisah lucu yang pernah mereka alami. Hewan-hewan itu adalah kura-kura, keong, dan juga bekicot. Tapi waktu tengah asik-asik bergurau, tiba-tiba kelinci datang dan berlari dengan cepat. Debu yang berterbangan tentu saja membuat tiga sekawan itu terbatuk-batuk.

"Hai kelinci.. kami tahu bahwa kamu bisa lari cepat, tapi apakah kamu bisa menghargai juga teman-teman di sekitar mu?". Teriak kura-kura karena kesal. Mendengar perkataan kura-kura, kelinci berhenti dan menghampiri mereka. "Hah buat apa? Mengapa aku harus mendengarkan perkataan dari komunitas hewan lambat seperti kalian? Pasti karena kalian iri sebab tak mampu berlari secepat aku, dan hanya bisa merayap pelan-pelan saja. hahahaha..". Kata kelinci malah mengejek.

Mendengar ejekan si kelinci, kura-kura menjadi geram. Dia tak terima jika dia dan teman-temanya di lecehkan begitu. Jangan sombong kau kelinci.. Kalau kau berani, mari kita lomba lari. Aku yakin aku mampu mengalahkan mu..". Tantang kura-kura. Mendengar tantangan itu, si kelinci tertawa terbahak-bahak dengan sikap melecehkan. "Kau? Mengalahkan aku? hahahaha.. Kau ini belum tidur, tapi sudah mengigau. Dasar kura-kura bodoh.. baiklah, demi menjaga nama baik ku karena kelancangan mu, akau akan memberimu pelajaran tentang arti kemenangan dan kecepatan". jawab kelinci.

Ahirnya, merekapun memutuskan untuk berlomba. Si bekicot bertugas sebagai hakim di garis start, sedangkan si keong berada di garis finish untuk mengawasi siapa yang sampai lebih dulu. Dan lomba lari itu di mulai. dengan mudahnya si kelinci memimpin lomba, di berlari jauh di depan kura-kura yang merangkak lambat. Hal tersebut membuat si kelinci tertawa semakin menghina, tapi si kura-kura tetap berusaha dan pantang menyerah. Dia tetap berlari dengan sekuat tenaga demi harga dirinya dan teman-temanya.

Melihat kegigihan kura-kura, timbul niat usil di hati kelinci. Sebenarnya, kurang beberapa langkah lagi si kelinci sudah sampai garis finish. Tapi dia ingin mengejek si kura-kura lebih dari itu, maka dia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon dekat garis finish. Dan ketika si kura-kura sudah tinggal beberapa langkah lagi dari garis finish, dia akan dengan cepat mendahuluinya. Tentu saja hal itu pasti akan membuat kura-kura menjadi putus asa dan dia bisa mengejeknya sesuka hati.

Di kejauhan, kura-kura masih berusaha berlari sekuat tenaga. Keringatnya bercucuran, tapi dia tak memperdulikanya. Apa lagi ketika dari kejauhan dia melihat kelinci yang tengah  istirahat di bawah pohon seolah mengejeknya, membuat kura-kura semakin bersemangat dan terus berusaha. Sementara itu, si kelinci yang menunggu kura-kura di bawah pohon menjadi sangat bosan. Karena langkah kura-kura yang cukup lambat, maka membutuhkan waktu yang lama bagi kura-kura untuk sampai di garis finish.

"Ah.. jadi ngantuk.. Lebih baik aku tidur sejenak untuk menunggu kura-kura tiba di sini. denagn langkah yang begitu lambat, butuh waktu lama baginya untuk mengejar aku". Kata kelinci kemudian tertidur. Tapi udara bawah pohon yang cukup sejuk di tambah dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang cukup segar, membuat kelinci tertidur cukup pulas. Bahkan dia tak menyadari ketika kura-kura berjalan melewatinya. Ketika dia terbangun, semua sudah terlambat. Kura-kura sudah menapakan langkah terahirnya tepat di garis finish sehingga kelinci tak bisa mendahuluinya. Ahirnya, kelinci yang sombong itu di kalahkan oleh kura-kura.

                                                                         TAMAT

Story by: Muhammad Rifai

Dongeng Kerbau dan Monyet Licik

Jaman dahulu kala, ada seekor monyet yang sangat nakal. Di sangat rakus dan suka mencuri tanaman dan buah para petani. Perbuatanya yang sudah sangat keterlaluan, membuat para petani resah. Sehingga para petani mulai menjaga ladang mereka dengan ketat dan memasang berbagai perangkap. Tentu saja hal ini membuat monyet yang nakal itu kebingungan, karena jika sampai dia tertangkap, nyawanya bisa melayang. 



Pada suatu hari ketika si monyet tengah asik termenung menahan lapar di bawah pohon, dia melihat banyak burung-burung tengah terbang membawa buah anggur yang cukup segar. Melihat hal itu, air liur si monyet mulai berjatuhan. Lalu si monyetpun berteriak pada burung-burung itu.." Hai kawan, dari mana kalian dapatkan buah-buahan yang ranum itu?". Merasa di panggil, burung-burung itupun berhenti dan bertengger di atas pohon. Sambil memakan buah anggur, burung-burung itupun menjawab.." Kami mendapatkanya dari kebun di seberang sungai. Para petani di sana baik hati. Mereka tak akan mengusir atau melukai mu jika kau hanya mengambil buah yang sudah terjatuh ke tanah, asal jangan kau makan buah yang masih ada di pohonya". Jawab burung-burung itu.

Mendengar jawaban itu, si monyet menjadi sangat girang. Diapun segera menuju kebun di seberang sungai, karena waktu itu sungai mengalir kecil karena musim kemarau, jadi si monyet dapat dengan leluasa menyeberangi sungai itu. Tapi karena sifatnya yang rakus, maka dia memakan semua buah anggur di kebun itu. Baik yang jatuh ke tanah, ataupun yang masih menggantung di pohon.

Berkali-kali si monyet mengulangi hal yang sama, hingga para petani di seberang sungai kini mulai resah. Mereka tak lagi seramah dulu, bahkan burung-burung kini juga di usir. Karena para petani tak tahu, bahwa yang merusak tanaman mereka adalah si monyet. Tapi meskipun sudah mulai di jaga, tapi si monyet tetap bisa dengan leluasa melakukan aksi nakalnya. Karena penjagaan tak begitu ketat, si monyet masih bisa mencari kelengahan para petani. Sehingga kelakuan si monyet kian hari kian menjadi.


Tak terasa, masa sudah memasuki musim penghujan. Dan si monyet masih saja melakukan pencurian tanpa mau mendengar keluh kesah para petani yang mulai merugi. Si monyet sangat serakah dan rakus, sehingga yang dia fikirkan hanya kepentinganya sendiri. Tapi sial, waktu si monyet akan menyeberang sungai, ternyata sungai itu tengah meluap karena guyuran hujan di atas bukit. Hal tersebut membuat monyet sangat kebingungan, karena dia tak bisa berenang.

Tapi monyet juga di kenal sebagai hewan yang licik, dia pun berfikir untuk mencari cara agar bisa menyeberang. Ahirnya, dia teringat pada sahabat lamanya, si kerbau. Kerbau adalah hewan yang cukup terkenal bisa berenang, dia adalah perenang yang hebat. Ahirnya, monyetpun menemui si kerbau untuk merayunya. "Hai kerbau sahabat ku, lama tak jumpa. Kenapa badan mu kini terlihat kurus?". Tanya monyet. "Ah, masak? Perasaan dari dulu tubuh ku tetap begini. Kau saja yang sekarang terlihat tambah gemuk". Jawab si Kerbau. "Hehehe.. Bagaimana aku tak gemuk? Aku makan enak tiap hari. Petani yang ada di seberang sungai sana, selalu memberi ku makanan enak. Aku di perbolehkan menghabiskan semua buah di kebunya". Kata si monyet mulai berbohong.

"Wah, benarkah itu? Beruntung sekali kau.. Pantas sekarang kau tambah gemuk". Kata si kerbau tanpa menaruh sedikitpun curiga pada sahabatnya. "Tapi kerbau, makanan di sana terlalu banyak. Aku tak sanggup menghabiskanya sendirian, maukah kau menemani ku ke sana dan kita makan berdua. Itu semua karena kau sahabat ku, makanya aku mengajak mu". Si monyet mulai menipu kerbau. "Wah.. Kau baik sekali kawan. Kalo begitu, ayo kita ke sana sekarang". Kata kerbau sangat girang. "Tapi tunggu dulu kerbau, air sungai kini sedang meluap. Aku tak bisa berenang..". Kata monyet lagi. "Ah, itu masalah gampang, kau bisa naik kepunggung ku. Kau tahu sendiri, aku ini perenang hebat". Jawab si kerbau.

Merasa tipu muslihatnya berhasil, si monyet merasa sangat senang. Monyet dan kerbau pun segera menuju kebun di seberang sungai, dan ketika menyeberangi sungai, si monyet naik ke punggung kerbau. Setelah sampai di kebun, monyetpun segera makan dengan lahapnya. Begitu pula si kerbau, karena dia merasa semua buah itu memang sengaja di berikan untuk monyet, maka dia juga memakan semua buah di kebun dengan lahap sama seperti monyet. Tapi tanpa mereka sadari, gerak-gerik mereka telah di perhatikan oleh para petani dari tadi. Para petani memang sengaja bersembunyi untuk mencari tahu siap sebenarnya yang mencuri di kebun mereka selama ini. Setelah melìhat monyet dan kerbau tengah kekenyangan, merekapun langsung berusaha menyergap kerbau dan monyet. Monyet yang sadar akan bahaya yang datang, segera berlari menyelamatkan diri meninggalkan kerbau yang kebingungan karena tak tahu masalah yang sebenarnya.

Tapi insting kerbau sadar akan bahaya yang mengancam, hingga ahirnya dia pun berlari menyelamatkan diri. Para petani melempari dan mengusir mereka dengan batu, sehingga membuat tubuh kerbau terluka, di tambah semak belukar yang penuh duri membuat si kerbau semakin kesusahan. Sedangkan si monyet sudah tak kelihatan batang hidungnya, hal tersebut membuat kerbau sadar bahwa dia telah di tipu. Hal itu membuat si kerbau menjadi sakit hati pada monyet.

Ahirnya, setelah beberapa lama berlari si kerbau sampai di tepi sungai. Dengan segera diapun masuk ke dalam sungai untuk mulai menyeberang. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba si monyet muncul. Ternyata dari tadi si monyet bersembunyi di semak-semak karena tak bisa berenang. "Hai kerbau sahabat ku, tunggu aku..! Apa kau tega meninggalkan sahabat mu di sini?". Teriak si monyet. Melihat kedatangan si monyet, hati kerbau menjadi sangat dongkol. "Jika kau ingin ikut, cepatlah melompat ke punggung ku. Aku sedang buru-buru, jadi kalau tak segera melompat, kau akan ketinggalan". Jawab si kerbau dengan nada ketus. Mendengar itu, si monyetpun berlari dengan sekuat tenaga. Dia semakin panik ketika mendengar para petani yang mengejar telah ada di belakang mereka. Ahirnya setelah sampai pinggir sungai, si monyet segera melompat. Tapi na'as, karena perutnya terlalu kenyang, membuat tubuhnya bertambah berat dan kurang lincah. Si monyet tidak dapat sampai di punggung kerbau, dan ahirnya tercebur ke dalam sungai dan hanyut terbawa arus. Sedangkan si kerbau tak meperdulikan hal itu, dia lebih memilih segera lari menyelamatkan diri. Karena para petani sudah kian dekat dan siap menangkap mereka.


Nah, hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini.. Jangan terlalu serakah, apa lagi menghianati kepercayaan orang lain pada kita.. Karena akan membuat rugi diri sendiri pada ahirnya.. :)


TAMAT

Story by: Muhammad Rifai

CERITA BUNGA dan KUPU-KUPU

Pada zaman dahulu kala, ada sebuah hutan yang cukup asri. Di dalam hutan tersebut tumbuh berbagai pohon dengan buah-buah yang manis dan ranum, sehingga banyak binatang yang senang tinggal di hutan tersebut. Dari hewan besar seperi rusa, panda, beruang, hingga para serangga.



Pada suatu hari, hutan tersebut kedatangan seekor penghuni baru. Dia adalah si Lili ulat. Tapi para hewan dan pohon sangat membencinya, karena dia terkenal sangat rakus dan tak memiliki manfa’at apapun. Dia sangat rakus dalam memakan daun-daun, sehingga banyak pohon yang tak mau dia tinggali. Sehingga Lili si ulat harus berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari rumah.

“Wahai pohon apel, bolehkah aku ikut tinggal di dahan mu?”. Tanya Lili ulat pada pohon apel.
“Kau tak boleh tinggal di sini. Karena makan mu banyak. Jika kau terlalu banyak memakan daun ku, maka aku tak akan bisa lagi berbuah. Carilah pohon lainya..”. kata pohon apel dengan ketusnya.
“Tapi aku janji, suatu saat budi mu pasti akan aku balas. Izinkan aku tinggal di sini, karena aku tak lagi memiliki rumah lain”. Kata Lili ulat memelas.

“Pokoknya tidak boleh..!! karena para hewan yang ikut tinggal di pohon ku pasti juga tidak setuju. Karena jika buah ku berkurang, mereka juga akan kekurangan makanan. Lagi pula apa yang bisa kau lakukan? Mahluk jelek dan lemah seperti mu tak bisa melakukan apa-apa selain makan dan makan saja. Sana pergi cari pohon yang lain”. Kata pohon apel dengan membentak.

Ahirnya dengan sedih Lilit ulat pun pergi mencari pohon lain yang mau dia tinggali. Tapi jawaban tiap pohon yang di temuinya sama, tak ada yang mau menerimanya. Ahirnya.. dia keluar dari hutan menuju ke pinggir hutan. Dia menangis dengan sedih meratapi nasib yang di alaminya. Ternyata tanpa dia sadari, ada pohon bunga matahari yang dari tadi memerhatikan dia.

“Mengapa kaumenagis kawan? Katakana masalah mu, mungkin aku bisa membantu mu”. Kata bunga matahari.
“Si.. Siapa yang bicara?”. Kata Lili ulat terbata-bata karena kaget.
“Aku yang bicara.. lihatlah ke atas!! Aku adalah bunga matahari. Aku adalah ratu dari semua bunga yang ada di padang ini”. Jawab bunga matahari.
Lalu Lili si ulat pun menceritakan kisahnya dengan menangis. Mendengar kisah Lili ulat yang sangat sedih, bunga mata hati menjadi sangat iba.

“Tak usah kau menangis lagi kawan.. kau bisa tinggal di sini. Kau bisa memilih tinggal di pohon ku, atau pohon bunga manapun yang kau mau. Mereka tak akan menolak, karena mereka adalah rakyat ku”. Kata bunga matahari.
Mendengar jawaban dari bunga matahari, Lili ulat menjadi sangat senang. Dia tersenyum dan menghapus air mata di pipinya.
“Benarkah itu kawan?”. Tanya Lili ulat tak percaya.
“Tentu saja benar.. aku tak pernah bohong. Lagi pula tak ada satu hewanpun yang mau tinggal di pohon atau dahan kami, karena kami tak memiliki buah. Jika kau mau tinggal di sini, tentu aku akan merasa senang karena memiliki teman baru”. Jawab bunga matahari .

“Tapi kawan.. kata mereka aku banyak makan. Sehingga mereka tak mau aku tinggal di dahan mereka. Mereka takut kalau daun mereka habis dan tak bisaberbuah. Apa kau tak takut kalau daun mu habis seperti yang mereka katakana?”. Tanya Lili ulat ragu.
“Hahaha.. berarti mereka berfikir sempit. Apalah arti sebuah daun? Seorang teman lebih berharga dan susah untuk di cari. Sedangkan daun akan bisa tumbuh lagi dengan sendirinya. Kau tak usah hawatir kawan..”. jawab bunga matahari dengan bijak.

Lili ulat sangat senang mendengar jawaban yang sangat bijak itu. Dan mulai saat itu, Lili ulat dan bunga matahari menjadi sahabat baik. Tiap hari mereka bercanda dan bercerita tentang banyak hal. Itu adalah hari-hari terindah yang di lalui dua sahabat tersebut. Hingga pada suatu hari..
“Bunga matahari sahabat ku.. ini adalah hari terahir aku bisa bercanda dengan mu.. “. Kata Lili ulat.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, bunga matahari terkejut.
“Memangnya engkau hendak ke mana kawan? Apakah kau mau pergi mennggal kan aku?” Tanya bunga matahari.

“Tidak sahabat ku.. aku tak akan mungkin meninggalkan sahabat sebaik diri mu. Aku hanya mau berpamitan.. mulai besok aku akan berpuasa dan mngurung diri ku untuk tidur panjang. Mungkin sudah saatnya aku mulai membalas budi baik mu”. Jawab Lili ulat.
“Berpuasa? Tidur panjang? Membalas budi? Apa yang kau maksud kawan? Aku sama sekali tak mengerti apa maksud ucapan mu..”. kata bunga matahari bingung.
“Kau akan mengerti nanti pada saatnya kawan.. untuk sementara, aku akan meminjam dahan mu untuk membangun rumah ku dalam berpuasa.. ku mohon kau mengizinkanya”. Kata lili ulat.
“Apapun yang terbaik untuk mu kawan, aku pasti mendukung mu..”. jawab bunga matahari.

Ahirnya, mulailah si Lili ulat membuat rumahnya dan berpuasa. Dia membungkus diri dalam balutan benang-benang yang membentuk sebuah kantung, dan biasa kita kenal dengan kepompong. Berhari-hari sudah bunga matahari merawat dan menunggu teman baiknya itu bangun. Dia melindunginya dari panas, angin, dan juga hujan. Dan ahirnya tibalah waktunya untuk si Lili ulat bangaun dari tidur panjangnya.

Tapi betapa terkejutnya bunga matahari, karena dia melihat bukan lagi Lili ulat sahabatnya yang keluar dari kantong itu. Melainkan seekor mahluk indah bersayap yang sangat indah dan canti.
“Siapa kau? Di mana ulat sahabat ku?”. Tanya bunga matahari kebingungan.
“Akulah ulat sahabat mu kawan. Kau tak usah heran. Setelah aku berpuasa dan tidur dalam kantong ini, aku akan berubah menjadi seekor kupu-kupu. Akau meken banyak ketika menjadi ulat, adalah sebagai bekal puasa ku untuk menjadi kupu-kupu. Tapi mereka tak tahu itu. Dan kini saatnya aku membalas budi mu dengan membantu penyerbukan mu dan semua rakyat bunga mu”. Jawab Kupu-kupu yang ternyata Lili ulat itu.

Mendengar penjelasan dari Liliyang kini menjadi kupu-kupu, bunga matahari menjadi sangat gembira. Ternyata sahabatnya itu memiliki kemampuan yang aneh dan luar biasa. Sebuah kemampuan yang tak di miliki oleh hewan lainya. Dan mulai saat itu, persahabatan mereka menjadi semakin akrab. Dan persahabatan tersebut berlanjut hingga anak cucu mereka. Kupu-kupu dan bunga selalu menjadi teman sejati.

TAMAT

Story By: Muhammad rifai

Dongeng Asal Mula Rumah Siput

Al-kisah pada zaman dahulu kala, siput tidak memiliki rumah seperti sekarang ini. Ada cerita dan dongeng tersendiri yang menceritakan asal mula rumah siput. Karena tak memiliki rumah, siput tinggal dari satu tempat ke tempat lainya. Dia terus berpindah-pindah demi mencari tempat yang tepat untuk di jadikan rumahnya.    

 

Pertama kali, dahulu siput tinggal di atas pohon. Dia mendiami sarang burung yang telah di tinggal pemiliknya. Waktu pertama kali dia menempati sarang burung itu, siput merasa sangat nyaman. Daun dan dahan-dahan pohon melindunginya dari terpaan sinar mata hari. Sedangkan hangatnya sarang, melindunginya dari udara dingin di malam hari. Tapi semua tak berjalan lama, karena ketika musim hujan tiba siput tak bisa berbuat apa-apa. Karena daun dan ranting pohon tak bisa melindunginya dari terpaan air hujan. Sehingga siput merasa sangat kedinginan.

Akhirnya dia pun berpindah dari sarang burung itu, kemudian dia melihat sebuah lubang di batang pohon. Siput pun memutuskan untuk tinggal dan menjadikan lubang itu sebagai rumah barunya. Dia merasa nyaman, karena dia tak akan terpapar panasnya terik mentari dan tak kedinginan terguyur oleh air hujan. Tapi lagi-lagi ketenanganya tak bertahan lama. Karena pada suatu hari ada seekor burung pelatuk yang mematuk pohon tempat siput tinggal. Siput menjadi sangat terganggu dan tak bisa beristirahat dengan tenang, akhirnya dia kembali pindah dan turun dari atas pohon untuk mencari rumah baru.


Kemudian siput menemukan sebuah lubang di tanah. Dia pun mencoba untuk tinggal dan menjadikan lubang itu sebagai rumahnya. Suasana lubang yang hangat membuat siput sangat senang dan nyaman. Tapi gangguan kembali datang. Ketika malam tiba, para tikus datang dan menggali tanah tempat siput berada. Dan akhirnya rumah barunya kembali porak poranda. Dan siput akhirnya terpaksa untuk kembali pergi mencari rumah idamanya.

Hingga sampailah siput di tepi sebuah pantai. Dia menemukan sebuah lubang di batu karang dan mencoba untuk tinggal disana.
"Mungkin ini bisa menjadi rumah yang tepat bagi ku. Aku tak akan kepanasan ataupun kehujanan. Tak akan ada burung pelatuk yang mengganggu ku, dan tak ada tikus yang mampu menggali batu karang ini untuk mengusik aku." kata siput dalam hati. Tapi lagi-lagi semua di luar perkiraanya. Ketika air laut pasang, rumah barunya ikut terendam dan membuat siput tersapu oleh ombak. Dan akhirnya dengan hampir berputus asa siput memutuskan untuk kembali mencari rumah baru.
Siput berjalan gontai menyisiri pantai. Rasa lelah membuatnya lemas. Akhirnya, dia menemukan sebuah cangkang kosong yang sangat cantik. Dan diapun masuk ke cangkang itu untuk beristirahat sementara waktu sebelum melanjutkan pencarianya.

Tapi ketika pagi tiba dan siput terbangun, dia mulai sadar bahwa cangkang itu terasa sangat nyaman dan pas untuknya. Bentuknya yang indah dan cukup ringan, membuatnya leluasa untuk di bawa kemanapun siput pergi. Akhirnya, siput memutuskan untuk menjadikan cangkang itu sebagai rumah barunya yang sangat nyaman dan bebas dari gangguan.


Pesan yang dapat kita petik, jangan menyerah untuk terus berusaha. Karena sebuah kegagalan adalah wujud dari keberhasilan yang tertunda.

Oleh: Muhammad Rifai

Dongeng Dua Kambing yang Serakah

Musim hujan telah tiba, hujan lebat yang di sertai angin kencang tak henti-hentinya mengguyu bumi. Hal tersebut membuat air sungai di lembah menjadi meluap dan berarus sangat deras. Dan itu membuat hewan-hewan yang hidup di sana menjadi sulit untuk mencari makan. Itu semua karena area mereka untuk mencari makan menjadi terbatas, arus sungai yang meluap membelah tepat di tengah lembah. Hingga lahan mereka untuk berburu dan mencari makan juga cukup sempit, dan lagi mereka juga sulit untuk berkunjung kepada sanak saudara yang ada di seberang.



Tapi pada suatu hari angin yang sangat kencang menumbangkan sebuah pohon kecil di tepi lembah itu. Pohon itu melintang hingga menghubungkan kedua lembah itu, tapi posisinya yang berada pada tebing yang curam membuat siapa saja yang ingin melewatinya harus hati-hati.
Pohon itu sangat kecil, hingga hanya muat untuk satu penyebrang saja. Karena jika kecilnya pohon tersebut, juga membuatnya tak mampu menahan beban yang terlalu berat. Para hewan menggunakan pohon itu secara bergantian, karena mereka tak mau jika mereka akan celaka.


Pada suatu hari, ada dua ekor kambing jantan yang ingin menyebrang. Keduanya berjalan dari arah yang berlawanan, dengan gagahnya keduanya berjalan menuju tepian sungai.

"Hai kau yang di seberang.. Biarkan aku menyeberang lebih dulu. Karena aku yang lebih dulu tiba di sini". Kata kambing pertama.

"Oooo.. Tidak bisa.. Jelas-jelas aku yang tiba lebih dulu di sini. Jadi aku yang berhak menyebrang lebih dulu. Kau menyebrang saja sesudah aku". Jawab kambing ke dua.

Lama kedua kambing itu saling berdebat, dan dari keduanya sama-sama angkuh dan tak ada yang mau mengalah. Sifat serakah dan sombong telah membuat mereka menjadi egois, hanya mementingkan diri sendiri dan ingin menang sendiri.

"Baiklah kalau di antara kita tak ada yang mau mengalah, lebih baik kita buktikan saja siapa yang patut sampai di seberang dengan selamat. Kita bersamaan menyebrangi pohon ini, kita adu kuat. Yang terkuat dialah yang akan selamat". Kata kambing pertama.

"Baik.. Siapa takut? Sudah pasti aku yang akan menang. Karena aku adalah kambing terkuat dan tergagah di lembah ini". Kata kambing kedua tak mau kalah.


Ahirnya kedua kambing itu menyebrang bersamaan. Setelah sampai di tengah-tengah, salah satu dari mereka tetap tak ada yang mau mengalah. Rasa angkuh telah menguasai mereka. Mereka malah saling adu tanduk untuk menunjukan siapa yang terkuat di antara mereka. Rasa gengsi membuat keduanya enggan untuk mengalah.
Ahirnya.. Sifat angkuh dan keserakahan mereka berujung bencana. Pohon kecil yang mereka pijak tak mampu menahan berat keduanya. Karena hal tersebut, pohon itu pun ahirnya patah dan kedua kambing itu pun jatuh ke dalam sungai.
Sungai yang meluap dan arusnya yang cukup deras, menghanyutkan kedua kambing tersebut dan ahirnya keduanya tenggelam di telan riak air.


Hikmah dari kisah ini adalah.. Keserakahan dan keangkuhan selalu merugikan. Oleh karena itu, jangan terlalu angkuh dan serakah akan suatu hal. Belajarlah untuk mengalah dan berusaha untuk selalu rendah hati.
The End


Di Tulis Oleh: Muhammad Rifa'i

DONGENG RAJA HARIMAU DAN KERA

Setelah dirinya berhasil di kelabuhi oleh si kancil,harimau menjadi sangat dendam pada si kancil.
Tiap kali mengingat apa yang berani di lakukan si kancil padanya,hatinya menjadi terasa terbakar.
Dia pun berniat untuk membalas dendam pada si kancil.
Rupanya rasa marah dan gundah yang di rasakan rajanya di ketahui oleh serigala.
Maka serigala pun mencoba memberi saran pada harimau sang raja hutan.



"Kenapa tak kita datangi ke alas purwa saja bos,tempat tinggalnya".kata serigala.
"Aku tak bisa ke sana,karena daerah itu adalah wilayah raja kong,si raja kera".kata harimau.
"Lho..?? Memangnya kenapa bos?Apakah si bos takut pada bangsa kera?Kan mereka bukan apa-apa di banding baginda raja loreng yang kuat".kata serigala mecoba menghasut.
"Jaga bicara mu,atau kau akan ku bikin bergedel serigala.!!
Masalahnya bukan takut atau tidak,tapi ini soal perjanjian yang telah di lakukan oleh leluhur ku dulu..".kata harimau.
"Perjanjian seperti apa bos?
Kok sampai-sampai begitu penting?".tanya serigala.
"Akan ku ceritakan pada mu,dengarkan baik-baik....

Dahulu kala harimau adalah satu-satunya raja hutan yang berkuasa.
Semua binatang tunduk dan patuh pada perintahnya.
Nenek moyang ku,king loreng generasi pertama adalah pemimpin yang bijak,tapi itu semua terjadi setelah ada perjanjian "bagi wilayah".
Sebenarnya..nenek moyang ku dulu adalah raja yang sangat di benci rakyatnya karena suka bertindak semena-mena.
Hingga pada suatu hari ketika king loreng generasi pertama jalan-jalan,dia terjebak dalam lumpur hisap.
Dia tak bisa lolos dari lumpur hisap itu dan perlahan-lahan dia mulai tenggelam di dalamnya.
Dia pun berteriak-teriak minta tolong,tapi tak ada satu pun binatang yang mau menolongnya.
Ahirnya..datanglah seekor kera di hadapanya.
Dan nenek moyang ku meminta tolong padanya,tapi kera itu tidak mau.
Raja harus mau memenuhi beberapa syarat sebagai ganti petolongan yang dia berikan,dan demi keselamatan nyawanya...
nenek moyang ku menyanggupinya.


Dan kera mengajukan tiga persyaratan..
Yang pertama,sang raja harus menjadi raja yang menyayangi rakyatya serta bersikap adil dan bijak sana.
Yang ke dua,harus ada pebentukan dewan
tinggi dan pembagian wilayah kepemerintahan.
Itu di lakukan sebagai alternatif pemegang kepemrintahan sementara ketika raja loreng mengingkari janjinya.

Dan yang ke tiga,bangsa harimau tidak boleh memangsa dan mengganggu bangsa kera dan anak cucunya.

Dan nenek moyang ku menyanggupi semua syarat dan perjanjian itu.
Bahkan nenek moyang ku menghadiahi bangsa kera dengan taring dan kuku yang kuat sebagai wujud keseriusan perjanjian itu.

Nah serigala,sekarang kau tahu alasan apa yang membuat ku tak bisa menyusul kancil ke tempat asalnya..".kata king loreng menutup ceritanya.

''Oooo..rupanya begitu to bos? Yah,mau gimana lagi kalau sudah kaya gitu,berarti si bos harus lebih bersabar saja menunggu si kancil keluar dari sarangnya".kata serigala kemudian pamit undur diri.

Sementara harimau masih tetap terpaku di singgasananya,dan menunggu kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan si kancil..

*The End*

Story by: Muhammad Rifa'i

Dongeng SINGA dan TIKUS

Pada suatu hari, ada seekor tikus kecil yang sedang asik mencari makan. Saking asiknya, dia tak sadar bahwa dia sudah berjalan terlalu jauh dari rumahnya hingga masuk ke dalam hutan yang cukup lebat. Sadar akan hal itu, si Tikus pun segera bergegas mencari jalan untuk pulang, tapi nasibnya sungguh malang, dia malah tersesat lebih jauh lagi ke dalam hutan. Lama dia mencari jalan untuk bisa pulang kerumahnya, tapi tikus itu belum juga mendapat jalan dan ahirnya kelelahan.



Tak terasa, waktu sudah hampir gelap. Tikus itu masih terus berusaha mencari jalan pulang. Tapi sepertinya hari ini nasibnya benar-benar buruk, ketika tengah kebingungan mencari jalan untuk bisa pulang, dirinya malah tak sengaja masuk di sarang seeekor singan yang tengah tidur pulas. Ranting yang tak sengaja diinjaknya membuat singa yang sedang tidur itu terbangun dan segera mencengkeram tikus itu dengan kuku-kuku tajamnya. “ Hai mahluk kecil.. berani benar kau mengganggu tidur ku. Jika sudah bangaun begini, harus ada yang bisa ku makan. Maka kau akan menjadi makan malam ku. Grrrr…”. Kata singa menggeram.

Mendengar singa yang tengah marah, si tikus malang itu menjadi sangat ketakutan. Dia pun memberanikan diri untuk angkat bicara” ma’af singa yang perkasa.. aku tak sengaja. Aku tersesat di hutan ini ketika sedang mencari makan. Aku sudah beruaha mencari jalan untuk keluar dari hutan, tapi malah tak sengaja aku malah masuk ke dalam sarang mu. Ma’af kan aku.. kasihanilah anak-isteriku yang sedang menunggu ku di rumah. Aku janji, jika kau melepaskan aku, maka suatu saat aku akan membalas kebaikan mu”. Kata tikus memelas.

Mendengar perkataan tikus, singa menjadi tertawa terpingkal-pingkal. ‘”Hahaha.. mahluk kecil seperti mu bisa apa? Hingga kau berani berjanji untuk menolong ku? Tapi baiklah.. karena kau sudah membuat ku tertawa dan aku juga kasihan dengan anak dan isteri mu, maka kali ini kau akan ku lepaskan. Kau jalanlah lurus kea rah utara, maka kau akan bisa keluar dari hutan ini. dan ingat..!! jangan sampai kau kembali lagi ke sini, atau aku akan memakan mu dan tak akan mengampuni mu”. Kata singa. Mendengar itu, si tikus menjadi sangat senang. Tak henti-hentinya dia memanjatkan syukur dan bertekad akan menepati jajinya pada singa suatu saat nanti.

Tiga bulan sudah berlalu setelah kejadian itu, pada suatu pagi.. si tikus mencari makan seperti biasa. Kini dia hanya berkeliling di sekitar perbatasan hutan saja, karena takut jika kembali tersesat seperti dulu. Ketika si tikus tengah asik mencari makan, lamat-lamat dia mendengar suara erangan. Suaranya sudah sangat lemah. Dia pun mencari dari mana arah suara itu. Betapa kagetnya dia ketika melihat singa yang dulu pernah di temuinya tengah tak berdaya terjebak dalam jaring yang di pasang oleh pemburu. Tikus pun mendekatinya dan bertanya tentang perihal kejadian yang menimpa singa.

Ternyata, sudah tiga hari lamnya singa terjebak di situ. Dia sudah berusaha meronta dan berusaha keluar dari jerat jaring itu, tapi sia-sia. Ahirnya dia terkulai lemas karena kehabisan tenaga dan kelaparan. Mendengar kisah singa itu, si tikus menjadi iba. Lalu dia pun ingat pada janjinya dahulu, bahwa kelak dia akan membantu singa sebagai balas budi. Maka dia pun berkata pada singa “ Hai singa yang perkasa.. dahulu kau meragukan janji ku yang akan menolong mu karena ukuran tubuh ku yang kecil, Tapi kali ini mahluk kecil ini akan menunjukan bahwa dia bisa menepati janji meski ukuranya tak seberapa”. Mendengar perkataan si tikus, singa sedikit kaget. Ternyata mahluk kecil itu masih ingat dengan janjinya dan bukan di buat alas an hanya sekedar untuk melarikan diri. Maka dalam hatinya, singa mengakui sifat yang di milikioleh si tikus.

Tikus itu lalu dengan segera menghampiri singa, dan menggigit tiap tali yang menjerat tubuh sang singan hingga semua tali itu putus. Ahirnya setelahbeberapa waktu, semua tali itu dapat di putuskan dan sang singa ahirnya bebas. Lalu singa menghampiri tikus dan berkata” Terimakasih kau telah menolong ku. Kini aku mengakui keberanian dan kemampuan mu. Kemampuan tak di ukur dari bentuknya, tapi lebih dari apa yang mampu mereka lakukan. Maka mulai saat ini, aku mengangkat mu menjadi sahabat. Dan kelak jika kau butuh pertolongan ku, maka aku akan dating untuk membantu mu”. Kata singan kemudian kembali ke dalam lebatnya hutan. Sementara si tikus segera kembali ke rumahnya. Hatinya merasa senang karena kini dia mendapat teman baru serta sudah mampu menepati jani yang pernah dia buat dulu.

                                                                             TAMAT

Story By: Muhammad Rifai

Cerita Katak dalam Tempurung

Kali ini, blog ini akan bercerita tentang pentingnya sebuah pengalaman. Pengetahuan yang luas serta ilmu yang banyak, sangat di butuhkan untuk menjaga diri dari tipu daya. Baik tipu daya dari orang lain, atau tipu daya dari diri sendiri yang berakibat pada rasa sombong dan keras kepala. Karena sifat sombong dan keras kepala, dapat berakibat celaka di kemudian hari. Seperti dongeng berikut ini.. 



Dahulu kala, ada sebuah kolam kecil di pinggir sebuah hutan. Kolam ini sangat tersembunyi karena di kelilingi rumput dan ilalang yang cukup tinggi dan lebat. Hanya dapat di lihat dengan jelas dari angkasa saja. Di kolam ini, terdapat sebuah kerajaan katak. Di huni hingga ratusan katak yang berada dalam satu tempat. Tiap tahun, di kerajaan itu di adakan pertandingan gulat untuk menentukan gelar terkuat. Dan tiap tahun yang menjadi pemenang adalah pangeran pertama yang selalu andil dalam turnamen gulat itu.

Sang raja memiliki tiga orang anak. Dan ketiganya adalah lelaki, mereka adalah pangeran yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan itu. Semenjak lahir ketiga pangeran itu tumbuh dan besar di kolam itu. Mereka sama sekali belum pernah menjajakan kaki ke dunia luar, dunia di balik rimbunya rumput dan ilalang. Sebagaimana turnamen yang sudah-sudah, turnamen kali ini di menangkan juga oleh pangeran pertama. Hal tersebut menumbuhkan rasa sombong yang terus menerus tumbuh subur seiring waktu. Dia menjadi sangat angkuh, dan merasa dia adalah mahluk tak terkalahkan di dunia ini. Karena selama ini, tak ada satupun yang mampu menandingi kekuatanya, apa lagi mengalahkanya.

Tentu saja sifat sombongnya membuat para rakyatnya menjadi membencinya. Karena dia selalu memamerkan kekuatan dan menantang siapa saja yang di temuinya, karena dia yakin, dia tak terkalahkan. Hingga pada suatu hari ketika dia tengah termenung bosan di pinggir kolam, secara tak sengaja dia melihat ada burung yang terbang melintas di atas kawasan kolam itu. "Wah.. Mahluk apa itu? Bagaimana caranya dia bisa melayang begitu? Ah, andai aku bisa menaikinya dan menjadikanya sebagai pelayan, pasti semua mahluk di sini akan sangat menghormati ku.. Hahaha ". Fikir pangeran katak itu dengan naif. Tapi untuk mengejar burung itu, dia harus keluar dari area kolam dan menembus rimbunya rumput dan ilalang, itu adalah kawasan asing yang sama sekali belum pernah di masukinya. Tapi sifat sombongnya yang mengatakan dia mahluk terkuat, membuat dirinya tetap melangkah.

Ketika di perjalanan, dia bertemu dengan jangkrik yang tengah makan rumput. Dengan angkuhnya pangeran katak itu bertanya pada jangkrik itu. "Hai mahluk lemah tak berguna, kau tahu kemana jalan keluar dari lebatnya ilalang ini?". Tanya pangeran itu. Merasa dirinya di panggil, jangkrik pun menoleh ke arah suara itu. Tapi begitu dia melihat katak yang tengah berdiri angkuh, jangkrik itu kontan tertawa terbahak-bahak. Karena ternyata yang memanggilnya dengan sebutan lemah adalah seekor katak yang tak jauh lebih lemah dari dirinya. Merasa tak mendapat respon, sang katak pun berlalu melanjutkan perjalananya. " Dasar mahluk gila..". Gerutu pangeran katak itu.

Dia sepanjang jalan, katak yang sombong itu bertemu dengan belalang, keong, dan juga hewan kaki seribu. Katak itu bertanya pada semua hewan itu dengan sikap angkuh dan pertanyaan yang sama seperti pada jangkrik, tentunya dengan lagak sok jago dan merendahkan. Dan reaksi hewan-hewan itupun sama, mereka menertawakan si katak yang sombong itu. Dan katak itu kembali berlalu.

Tapi, pada ahirnya katak itu menghadapi nasib yang celaka. Ketika tak sengaja dia melewati seekor ular yang sedang tidur. Dengan sombongnya dia menendang ular itu untuk membangunkan dan bertanya padanya. Sial.. Ular yang merasa terusik karena waktu tidurnya di ganggu, serta amarahnya timbul ketika melihat seekor katak yang berani menendang dia dan menjulukinya dengan mahluk lemah. Kontan saja ular itu langsung menyambar sang pangeran katak, dan ahirnya pangeran katak yang sombong itu mati di makan ular. Nah, terkadang.. Pengetahuan sangat di butuhkan untuk mampu bertahan hidup. Ibarat katak dalam tempurung, hanya memiliki pengetahuan terbatas hingga membuat dirinya sombong..

TAMAT

Story by: Muhammad Rifa'i

CERITA ULAR AJAIB dan PEMBUAT TIKAR

Dahulu kala, ada seorang pembuat tikar yang sangat miskin. Dia tinggal di tepi hutan bersama isterinya, tanpa tetangga satupun yang dia miliki. Setiap hari pekerjaanya adalah memotong bamboo di hutan kemudian menganyamnya menjadi tikar. Lalu tikar yang dia buat di jualnya ke pasar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.



Pada suatu hari ketika dia pergi ke hutan untuk memotong bamboo, dia mendengar ada suara minta tolong. Lalu dia pun mncari-cari dari mana arah suara itu berasal. Ternyata itu adalah suara seekor ular yang tercepit di antara belukar pohon bamboo. Lalu diapun menolong ular itu untuk melepaskan diri. Ternyata, ular tersebut adalah ular ajaib. Si pembuat tikar di perbolehkan oleh ular itu untuk meminta apapun yang di butuhkan ketika dia kesulitan.

“Aku ingin punya rumah yang megah dan jadi orang kaya”. Kata pembuat tikar.
“Baiklah, permintaan mu akan terkabulkan”. Kata si ular.
Benarlah demikian, setelah itu.. si pembuat tikar memiliki rumah yang cukup megah dan mewah. Bahkan kemegahan rumah yang di milikinya dapat menyaingi indahnya sebuah kerajaan.
“Hai suami ku, apa gunanya kita memiliki rumah megah dan jadi orang kaya, jika tak ada satupun orang yang menghormati kita? Lihatlah, kita hidup sendiri di pinggir hutan. Kau pergilah lagi menemui ular itu, mintalah sesuatu lagi padanya..”. kata sang isteri.

Lalu si pembuat tikarpun kembali pergi ke hutan menemui ular ajaib itu.
“Apa lagi yang kau butuhkan?”. Tanya si ular.
“Aku ingin di hidup mewah dan di hormati oleh banyak orang. Lihatlah, rumah ku ada di pinggir hutan. Semegah apapun bangunanya, tak ada yang akan melihatnya”. Kata si pembuat tikar.
“Baiklah.. dengan seizing dari yang maha kuasa, besok permintaan mu akan terkabul. Sekarang pulanglah’’. Kata si ular. Lalu si pembuat tikar pun kembali pulang ke rumahnya, dan menunggu ke ajaiban apa lagi yang akan terjadi.

Pada keesokan harinya, ada beberapa prajurit dan pejabat kerajaan yang dating ke rumah si pembuat tikar. Tentu si pembuat tikar merasa terkejut, ada gerangan apa para prajurit dan pejabat istana dating mengunjunginya. Ternyata kedatangan mereka bertujuan untuk menjemput dia dan isterinya ke istana. Sang raja yang dahulu telah memerintahkan para pejabat dan pengawal untuk menjemput mereka dan menjadikanya seorang raja, karena sang raja terdahulu telah memutuskan meninggalkan tahta dan kemewahan untuk menjalani pertapaan.

Ahirnya.. keinginan pembuat tikarpun kembali terkabul. Dia hidup dalam kemewahan, dan di hormati banyak orang. Apakah dia sudah merasa cukup? Ternyata tidak.. kemewahan dan tahta yang di sandangnya telah menumbuhkan sifat keserakahan dan tamak dalam dirinya. Pada suatu hari.. dia ingin ganti baju, tapi para pelayan bilang jika baju sang raja belum kering setelah di cuci karena seharian itu mendung. Dan pada hari yang lain, dia ingin berenang dalam kolam kerajaan. Tapi karena panas matahari yang terik, air kolam itu menjadi sangat panas dan membuat kulitnya sedikit melepuh.

“apa gunanya menjadi raja jika hanya dapat memerintah dan di hormati oleh manusia saja. Mungkin akan lebih menyenangkan jika mata hari juga tunduk atas perintah ku dan mematuhi segala titah ku. Besok aku akan dating lagi ke hutan menemui si ular”. Kata pembuat tikar itu.
Pada keesokan harinya, dia dating lagi ke hutan sendiri untuk menemui si ular.
“Apa lagi yang kau butuhkan?”. Tanya si ular.
“Aku belum merasa puas jika hanya di hormati dan di patuhi oleh manusia saja. Aku ingin agar matahri juga tunduk pada perintah ku’. Kata pembuat tikar itu dengan angkuhnya.
Mendengar permintaan si pembuat tikar, ular ajaib itu menjadi sangat marah. Lalu dengan amarah yang meledak, dia berkata pada pembuat tikar itu..
“Kau memang dasar manusia tak tahu malu..!! kau serakah.. tamak.. dan sombong akan apa yang kau miliki. Kau sudah lupa pada derajat mu. Karena ke angkuhan mu, kau ingin menyaingi kekuasaan tuhan? Pergilah..!! aku tak mau lagi melihat mu. Pergi sekarang atau kau akan ku buat celaka”. Kata si ular.

Melihat ular yang sangat marah.. si pembuat tikar segera lari dari tempat itu dan pulang ke istananya.
“Tak mengapa permintaan ku tak terkabul. Paling tidak, aku masih tetap menjadi raja yang kaya dan di hormati”. Katanya sambil tersenyum.
Tapi beberapa hari kemudian dia di kejutkan dengan kedatangan kembali raja yang lama. Ternyata si raja yang lama membatalkan niatnya untuk menjadi pertapa dan memutuskan untuk menjadi raja kembali. Ahirnya, si pembuat tikar pun di turunkan dari tahta dan di suruh kembali pulang ke rumahnya di pinggir hutan. Ahirnya dia dan isterinya pun kembali pulang menuju rumahnya di pinggir hutan.

“Ah.. tak mengapa aku tak lagi menjadi raja, paling tidak aku masih memiliki rumah yang megah dan harta yang cukup melimpah”. Gumamnya dalam hati.
Tapi alangkah terkejutnya dia ketika tiba di rumahnya. Karena rumahnya yang megah dan indah, kini berubah kembali menjadi sebuah gubuk kecil yang reot dan jelek. Rumah megahnya telah berubah lagi seperti rumahnya yang semula. Melihat kejadian itu, timbul penyesalan di hatinya. Dia lalu pergi ke hutan untuk menemui si ular dan meminta ma’af. Tapi setelah lama dia mencari, ular ajaib itu tak juga dia temukan. Ahirnya, si pembuat tikar kembali hidup dalam kemiskinan  seperti sedia kala dengan membawa penyesalan yang sangat dalam seumur hidupnya karena ketamakan dan keserakahanya.

THE END

Story By: Muhammad Rifa’i

Cerita Dongeng Burung Blibis dan Kura-kura yang Sombong

Hari itu Azam terlihat sangat gembira. Sepulang dari sekolah tadi, tak henti-hentinya wajahnya terlihat ceria dan bahagia. Hal tersebut membuat ayahnya dan adiknya Zahra bertanya-tanya. Gerangan apa yang membuat Azam begitu berbunga-bunga. Sehabis solat isya’, Azam, Zahra, dan ayah ibunya menonton Televisi bersama di ruang keluarga. Dan Azam bercerita dengan sendirinya ha apa yang membuat dirinya begitu senang hari itu.
“Ayah.. hari ini aku terpilih menjadi kepala kelas loh yah. Teman-teman sepakat memilih aku, padahal aku tidak mengajukan diri. Bukankah itu hal yang sangat membanggakan ayah?”. Kata Azam dengan bangganya.
Ayahnya hanya tersenyum mendengar cerita anaknya itu, lalu ayah pun berkata..
“Iya.. bangga tentu saja boleh Zam, tapi jangan sampai hal tersebut membuat mu lupa pada siapa yang menjadikan mu mendapat kedudukan itu. Dan agar kamu lebih berhati-hati dan bijaksana dalam mengemban tugas mu sebagai pemimpin. Jangan sampai hal tersebut membuat mu sombong”. Kata sang ayah.
Azam hanya diam mendengar perkataan ayahnya tersebut. Dia masih belum mengerti tentang makan dari perkataan ayahnya. Hal tersebut dapat di maklumi, karena Azam masih duduk di bangku kelas 5 SD. Melihat raut wajah anaknya yang bingung, ahirnya sang ayahpun angkat bicara..
“Begini Azam dan Zahra, ayah punya cerita yang sangat menarik apa kaian ingin mendengarnya?”. Tanya sang ayah
.
Dengan serentak Azam dan Zahra pun menganggukan kepala, dengan senyum bahagia mereka berdua mendekat dan duduk di sebelah ayah mereka. Karena mereka berdua memang gemar sekali mendengar ayahnya bercerita. Biasanya, kisah-kisah yang di ceritakan ayah mereka memang selalu menarik untuk di simak.
“Baik lah kalau begitu, duduk yang manis ya.. dan kita akan mulai ceritanya..”. kata sang ayah.
Cerita dongeng Burung Blibis dan Kura-kura
Pada zaman dahulu, ada seekor kura-kura yang tinggal di sebuah kolam di pinggir hutan. Kolam itu memiiki air yang sangat bening dan bersih, sehingga hal tersebut menarik para hewan untuk dapat minum ke kolam tersebut. Tapi sayangnya, kura-kura itu sangat serakah. Dia tak mau berbagi dengan siap saja. Dia selalu memarahi dan melarang tiap hewan yang datang ke tempat itu untuk minum. Alasanya, jika air kolam itu di minum oeh para hewan yang selalu datang, maka air di kolam itu akan habis dan dia akan kehilangan tempat tinggalnya.
Tentu saja karena sifatnya tersebut, membuat para hewan penghuni hutan tidak menyukainya. Banyak hewan-hewan yang membenci kura-kura tersebut karena keserakahanya. Tapi hal tersebut tidak di perduikan oleh si kura-kura. Karena dia merasa bahwa apa yang di lakukanya adalah hak dia dan tidak ada seorang pun yang berhak mengatur hidupnya. Dan karena hal tersebut maka sudah dapat di tebak bagaimana akibat selanjutnya, si kura-kura tak memiliki teman sama sekali.
Datangnya Kemarau Panjang

Waktu terus berganti, berseang dari hari ke minggu, dan minggu ke bulan. Dan datanglah musim kemarau yang melanda kawasan hutan itu. Tak seperti tahun-tahun sebeumnya, musim kemarau kali ini berlangsung cukup lama. Hingga hal tersebut membuat sebagaian besar hewan-hewan penghuni hutan berpindah untuk mencari tempat baru, karena sumber air sudah mulai mengering dan semakin langka.
Seperti hari itu, terlihat segerombolan hewan berjalan untuk berpindah mencari tempat baru. Mereka merasa kehausan dan tak sengaja ewat di kolam tempat si kura-kura berada. Air di kolam itu juga terlihat semakin menyusut. Karena rasa haus, seekor banteng yang menjadi kepala rombongan tersebut mencoba meminta izin pada kura-kura untuk meminta sedikit air minum untuk rombonganya.
“Hai kawan.. bolehkah kami meminta sedikit air mu? Kami merasa haus dan ingin minum”. Tanya sang banteng.
Tapi dengan ketusnya si kura-kura menjawab..
“Jangan.. kalian tidak boleh minum di sini. Ini kolam ku, ini air miliku. Aku akan bertahan di sini hingga musim hujan tiba, aku yakin.. kemarau ini tak akan lama. Pasti akan segera turun hujan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalian carilah kolam lain, jangan sekali-kali berani minum di kolam ku”.
Mendengar jawaban kura-kura yang cukup ketus, rombongan itupun meninggalkanya dengan hati yang dongkol pada sifat jelek si kutra-kura.
“Baiklah kawan.. jika kau tak mau menolong sesama mu, maka tak akan ada yang mau menolong mu suatu saat. Ubahlah sifat sombong dan angkuh mu, sebeum hal yang buruk menimpa mu suatu saat nanti..”. kata si banteng sambil berlalu meninggalkan kura-kura dan kolamnya. Tapi belum lama mereka berjalan, mereka menemukan sebuah kolam lain yang masih menyisakan sedikit air. Mereka membagi air itu sama rata dan meminumnya sama-sama sebelum mereka ahirnya melanjutkan perjalanan.
 Burung Blibis dan Kura-kura

Sementara itu, beberapa minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Tapi musim hujan belum juga tiba. Kolam tempat si kura-kura tinggal telah mengering dan menyisakan lumpur. Si kura-kura mencoba sembunyi di balik lumpur itu untuk bertahan hidup den melindungi diri dari panasnya sengat matahari. Ketika suasana semakin kritis dan kondisi kura-kura sudah sangat memprihatinkan hampir mati, tak sengaja ada sepasang burung blibis terbang melewati kolam itu. Melihat ada kura-kura yang butuh bantuan, mereka ahirnya memutuskan untuk turun menolongnya.
“Hai kawan.. apa yang terjadi pada mu? Apakah kau tidak ikut berpindah seperti para hewan-hewan yang lain?’. Tanya si burung blibis.
“Oh burung kawan ku.. akau di tinggalkan oleh mereka ketika aku tengah tertidur lelap. Dan kini aku hampir mati karena kehabisan air..”. jawab kura-kura berbohong.
“oh.. kasian.. kalau begitu kami akan menolong mu. Ada sebuah danau di  ujung selatan hutan ini. Dan semua hewan juga berkumpul di sana. akau dan istri ku ini akan mebawa mu ke sana”. kata si burung blibis yang ternyata bersama istrinya.
“Bagaimana cara kaian mebawa ku? Aku tak bisa terbang. Jika akau naik di punggung mu, tubuh ku terlalu berat untuk mu, kau tak akan sanggup..”. kata si kura-kura.
“Kau tak usah hawatir, akau akan mengangkat mu berdua bersama istri ku. Kami akan menggunakan ranting kayu yang kami gigit kedua ujungnya, lalu kau gigit di bagian tengah agar kami bisa membawa mu terbang bersama kami”. Jelas di burung blibis.
Ahirnya rencana tersebut di laksanakan, kedua burung blibis itu membawa terbang si kura-kura yeng menggigit bagian tengah ranting yang mereka bawa. Dan dengan cara itu mereka dapat mengangkat kura-kura dan membawanya terbang. Melihat dirinya dapat terbang tinggi seperti burung, tentu hal tersebut mebuat si kura-kura merasa bangga dan cukup senang. Seakan-akan dia ingin menceritakan kepada seluruh dunia tentang kehebatanya yang dapat terbang di angkasa.
Ketika di angkasa, tak sengaja si kura-kura meihat gerombolan hewan yang di pimpin oleh si banteng yang dulu pernah bertemu denganya di kolam. Geromboan itu terlihat tengah asik memakan rumput-rumput hijau di pinggir telaga. Meihat hal tersebut, muncul niat sombong di hati kura-kura dan ingin pamer tentang dirinya yang kini dapat terbang tinggi di angkasa. Dia pun berteriak untuk memanggil gerombolan hewan itu. Tapi celaka, dia lupa bahwa dia dapat terbang karena di angkat oleh kedua burung blibis di kanan kirinya dengan menggigit ranting yang mereka bawa. Ketika si kura-kura membuka mulut untuk berteriak, maka dengan tanpa di sadarinya dia juga melepaskan peganganya pada ranting itu. Dan ahirnya si kura-kura pun terjun bebas dari angkasa dan menghantam tanah dengan keras, kura-kura pun tewas.
Melihat hal tersebut, kedua burung blibis itu sangat kaget. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena apa yang menimpa kura-kura, adalah murni dari sifat ceroboh dan kesombongan hatinya sendiri. Dan kedua burung itupun terbang meneruskan perjalanan mereka meninggalkan kura-kura yang kini telah menjadi bangkai.
SELESAI
“Nah Azam dan Zahra sayang.. dari kisah ini banyak yang dapat kita petik pesan yang terkandung. Saah satunya adalah.. jangan pelit jadi orang, karena sifat pelit akan membuat mu tak memiliki teman. Dan juga.. biasakanlah sifat bergotong royong dan saling menolong. Hal seberat apapun yang tak bisa di kerjakan sendiri, pasti akan terasa ringan jika di kerjakan sama-sama seperti burung blibis tadi. Dan yang terahir.. buanglah sifat pamerdan sombong yang ada di hati kalian. Karena kedua sifat tersebut akan membawa kerugian yang sangat besar bagi diri sendiri seperti yang di alami oleh si kura-kura. Kalian mengerti kan anak-anak ku?’. Kata sang ayah menutup ceritanya.
Story by: Muhammad Rifai