Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

Kisah Lucu Nasrudin

Nasrudin adalah seorang tokoh sufi yang terkenal kocak. Bahkan kekocakan dan kelucuanya bisa di bilang sama dengan Abu Nawas. Begitu banyak kisah-kisah lucu dan konyol yang di miliki oeh Nasrudin ini. Dan pada kesempatan kali ini, bog dongen terbaru akan berbagi saah satu kisahnya. Selamat membaca.. 




Pada suatu hari, Nashruddin Effendy berdiri di mimbar; di depan massa, untuk memberikan nasihat. Dia berkata, "Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada kalian?" Orang-orang itu menjawab, "Tidak!
Kami tidak tahu." Kemudian Nashruddin berkata kepada mereka, "Baiklah, kalau kalian tidak tahu...
Tidak ada gunanya berbicara dengan orang-orang yang tidak tahu." Dia pun turun dan meninggalkan mereka.

Beberapa hari kemudian, dia kembali dan berbicara pada mereka dengan pertanyaan sama, yang pernah dilontarkannya. Dia berkata,"Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada kalian?" Mereka menjawab, "Ya, kami tahu." Dia kemudian berkata, "Jika kalian sudah tahu apa yang akan saya sampaikan, saya tidak perlu lagi mengatakannya." Lalu, dia pun pergi meninggalkan mereka.

Orang-orang itu pun kebingungan; apa yang seharusnya mereka katakan untuk menjawab pertanyaan Nashruddin itu. Namun, mereka sepakat untuk pada kesempatan mendatang, jika Nashruddin melontarkan pertanyaaan serupa, sebagian di antara mereka akan menjawab ya dan sebagian lain akan menjawab tidak.
Beberapa hari kemudian, Nashruddin kembali ke tempat itu dan berkata, "Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan pada kalian?"

Jawaban mereka pun beragam; sebagian berkata, "Ya, kami tahu," dan sebagian lagi mengatakan,  "Tidak, kami tidak tahu." Nashruddin berkata kepada mereka, "Baik, sebagian di antara kalian sudah mengetahuinya dan sebagian lain tidak. Karena itu, saya berharap, yang tahu memberitahu yang tidak tahu." Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka

Dongeng Anak Harimau dan Petani

Pada zaman dahulu, pulau jawa adalah sebuah dataran luas yang masih di kelilingi oleh hutan belantara yang lebat. Berbagai macam binatang buas menjadi penghuni dan predator yang dominan. Mereka memangsa apa saja yang lebih lemah mengikuti naluri hewani mereka. Dan manusia penghuni tanah jawa yang kala itu masih sedikit, tak lepas dari ancaman mereka. 



Kala itu tersebutlah sebuah desa kecil yang sangat makmur. Tanahnya yang subur, membuat hasil panen selalu melimpah dan tak kekurangan pangan. Pada suatu hari, tersebutlah seorang petani yang bernama pak karsa ingin pergi ke ladang untuk melihat tanaman padinya. Maklum, padi yang menguning dan sudah hampir siap di panen memang sangat rawan di rusak oleh kawanan babi hutan. Jadi tiap hari harus di jaga hingga tiba masa panen.

Waktu tengah asik memperbaiki pagar yang mengelilingi sawahnya, tiba-tiba pak karsa mendengar sesuatu. Diapun mencari-cari asal dari mana suara tersebut. Dan ahirnya dia pun di buat kaget, karena ternyata itu adalah suara 3 ekor anak harimau. Sepertinya ketiga anak harimau tersebut terjebak di dalam lubang yang dalam dan tak bisa keluar. Hingga mereka hanya bisa meraung-raung lemah berusaha mencari induknya.

Rasa takut menyelimuti pak karsa. Karena dia tahu bahaya apa yang akan mengancamnya jika sampai induk harimau tiba. Ingin sekali dia berlari dan meninggalkan ke tiga anak harimau itu di dalam lubang. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Dan tiba-tiba fikiran pak karsa teringat pada nasib 3 anak harimau itu. Jika terus di biarkan, maka mereka bisa mati tenggelam dalam lubang yang akan di penuhi air hujan.

Ahirnya, pak karsa mengikuti kata hatinya. Rasa ibanya pada sesama mahluk hidup mendorongnya untuk kembali. Dia memberanikan diri mengambil semua resiko dan kemungkinan yang menantinya demi menyelamatkan 3 anak harimau itu.

"Perbuatan baik, pasti akan mendapat balasan yang baik pula". Kata pak karsa dalam hati untuk menghilangkan rasa ragunya. Pak karsapun terjun ke dalam lubang dan mengeluarkan anak harimau satu persatu. Petani yang ikhlas ini dengan sangat hati-hati mengangkat anak harimau itu dan meletakanya di pinggir lubang. Hingga akhirnya dia mengeluarkan anak harimau yang ke tiga.

Tapi ketika anak harimau terahir telah di keluarkanya, tiba-tiba pak karsa mendengar suara auman yang sangat keras. Di lihatnya induk harimau telah berada di pinggir lubang itu, sedang pak karsa masih ada di dalam lubang.

Tentu saja petani yang baik hati itu di buat terkejut. Wajahnya pucat pasi karena menahan rasa takut yang teramat sangat. Hal tersebut dapat di maklumi. Karena posisi pak karsa tersudut dalam lubang tanpa bisa lari kemana-mana.

Ahirnya, pak karsa pun pasrah pada nasib. Dia sudah siap menerima nasib apapun yang akan menimpanya. Tapi pak karsa berkata pada harimau itu..
"Hai harimau.. Aku tak bermaksut jahat. Aku hanya berusaha menolong anak mu agar tak tenggelam dalam lubang ini. Lalu, apakah kau akan membalas niat baik ku dengan memakan ku?". Tanya pak karsa.

Mendengar kata-kata pak karsa, harimau itu hanya terdiam. Dia menatap pak karsa seolah memiliki arti lain. Tak lama kemudian, harimau itu membawa anaknya pergi meninggalkan pak karsa tanpa melukainya. Konon kabarnya, harimau dan petani itu menjadi sahabat baik. Bahkan harimau itu sering menemani pak karsa di sawah untuk menjaganya dari serangan hewan-hewan buas di hutan. Bahkan harimau itu juga membantu menjaga sawah pak karsa dari gangguang gerombolan babi hutan sebagai balas budi telah menyelamatkan nyawa anak-anaknya.

TAMAT

Nah para pembaca yang budiman. Dari kisah di atas banyak pelajaran yang dapat kita petik. Jika seekor hewan buas seperti harimau saja tau caranya membalas budi, apa lagi kita yang hidup sebagai manusia? Harusnya kita bisa lebih baik lagi. Karena tiap perbuatan baik, pasti akan mendapat balasan yang baik pula.

Sebenarnya saya dulu sudah pernah menulis kisah ini. Murni saya karang dari inspirasi saya sendiri pada blog saya yang dulu. Tapi cerita ini di copy paste oleh blog rumahdongeng, dengan mencantumkan anonymous sebagai penulisnya. Jujur saya agak kecewa. Karena karya saya di copy begitu saja. Ibarat inspirasi saya yang di curi. Tapi biarlah, mau bagaimana lagi? Dunia blogging kadang memang kejam. Saling curi dan mengambil hak paten dari karya orang lain.

Karena itu, saya kembali menulis kisah ini dengan cerita dan alur yang berbeda, meski inti ceritanya sama. Semoga dapat bermanfa'at bagi kita semua. Amiin..

Sekian dulu kisah yang dapat dongeng terbaru bagi kali ini. Nantikan kisah dan dongeng-dongeng terbaru menarik lainya ya. Jangan lupa berkunjung lagi. Bey.. !! ^_^


Story by: Muhammad Rifai

Dongeng si Serakah dan Laut yang Asin

Keserakahan dan sifat tamak selalu saja membawa bencana dan nasib buruk. Tapi ternyata, sifat tamak dan serakah tetap tak bisa di hilangkan. Dari zaman dahulu hingga sekarang, selalu saja ada orang-orang tamak yang serakah akan harta dan kedudukan. Dan mereka selalu memiliki akhir yang memprihatinkan. 



Nah, pada cerita kali ini.. Blog dongeng terbaru akan sedikit berbagi kisah tentang keserakahan. Berharap kita semua dapat memetik hikmah dari kisah kali ini. Nah, langsung kita mulai saja ceritanya ya...

Al-kisah pada zaman dahulu kala, air laut tak seasin sekarang. Air laut waktu itu memiliki kandungan garam yang rendah dan masih layak untuk di konsumsi. Lalu, kenapa air laut sekarang sangat asin? Ada kisah yang menceritakan kenapa air laut menjadi asin sekali.

Konon dahulu kala, hiduplah kakak beradik yang menghuni sebuah desa. Sang adik adalah seorang yang baik, ramah, dan sangat sabar. Sedangkan sang kakak memiliki sifat sebaliknya. Dia sangat rakus, serakah, tamak, dan mau menang sendiri.

Sang kakak hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta. Dia adalah orang terkaya di desa itu. Hal tersebut karena sang kakak mengambil alih semua harta warisan peninggalan orang tua mereka, dan tak mau membaginya dengan sang adik.

Sedangkan sang adik hidup dengan sederhana, atau malah bisa di bilang kekurangan. Sehari-hari dia bekerja mencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia tak pernah meminta haknya yang di rebut oleh kakaknya. Sifatnya yang sangat sabar membuatnya merelakan semua itu.

Hingga pada suatu hari ketika si adik baru saja pulang dari pasar menjual kayu bakar, dia berniat untuk membeli makanan. Kayu bakar yang dia dapat hari ini sangat sedikit, sehingga uang yang dia dapat hanya cukup untuk makan sekali saja. Saat si adik berjalan pulang dengan membawa makanan yang baru di belinya, tiba-tiba ada seorang pengemis yang menghadangnya.

"Nak.. Berilah sedekah seikhlasnya nak. Nenek sangat lapar. Sudah seharian nenek belum makan..". Kata pengemis itu.
Dan tanpa fikir panjang, si adik langsung saja memberi makanan yang baru saja dia beli. Padahal dia sendiri seharian belum makan apapun. Tapi rasa kasih sayangnya pada sesama membuat dirinya ikhlas dalam membantu.
"Lha kamu nanti makan apa nak? Apakah kamu sendiri sudah makan?". Tanya pengemis itu.
"Nenek tak usah memikirkan itu, saya tadi sudah makan nek. Perut saya masih kenyang". Kata si adik dengan senyum ramah. Dia berbohong untuk menenangkan hati si nenek pengemis.
"Kau adalah orang yang baik nak. Kau merelakan milik mu untuk orang lain, padahal kamu sendiri juga membutuhkanya. Maka, aku akan memberikan karung ajaib ini sebagai gantinya". Kata nenek pengemis itu sambil menyodorkan sebuah karung usang.

"Ini buat apa nek? Kenapa nenek memberikanya pada saya?". Tanya si adik penasaran.
"Ini adalah karung ajaib, karung ini dapat mengabulkan apapun permintaan mu. Tentu saja atas seizin yang maha kuasa. Bacalah manta sebelum meminta, dan ucapkan mantera penutup ketika kau rasa apa yang kau minta sudah cukup. Tapi ingat, jangan bersikap tamak dan serakah. Karena akan membuat mu celaka. Gunakan untuk membantu sesama yang membutuhkan". Kata nenek pengemis itu.

Lalu sang pengemis pun mengajarkan kedua mantra pada si adik, setelah selesai kemudia pengemis itu lenyap begitu saja. Tentu hal tersebut membuat si adik menjadi sangat terkejut. Dia berfikir, tentu pengemis misterius yang baru di temuinya bukanlah pengemis sembarangan.

Hingga tiba di rumah, fikiran si adik selalu bertanya-tanya tentang sosok nenek yang baru saja di temuinya. Otaknya di penuhi banyak pertanyaan yang tak mampu dia jawab. Tapi rasa lapar membuatnya tersadar. Lalu dia teringat pada karung pemberian si pengemis tadi dan berniat mencoba kebenaranya bahwa itu karung ajaib.

Lalu si adik pun membaca mantera lalu meminta makanan. Sungguh ajaib..!! Tiba-tiba karung itu mengeluarnya banyak makanan-makanan lezat. Dan ketika di rasa cukup, si adik membaca mantera penutup dan karung ajaib itu berhenti mengeluarkan makanan.

Berkat karung ajaib itu, si adik kini hidup berkecukupan. Bahkan dalam waktu singkat dia dapat membangun rumah yang sangat megah. Bahkan kini dia lebih kaya melebihi kakaknya.

Ternyata kakaknya yang serakah menjadi iri akan keberhasilan adiknya. Dia merasa tersaingi dan secara diam-diam mencari tahu apa yang dapat membuat adiknya kaya dengan cepat.

Hingga pada suatu hari, dia mengintip adiknya yang tengah meminta uang emas untuk di sedekahkan pada para fakir miskin. Tapi sebelum dia melihat semua yang di lakukan adiknya hingga usai, keburu ada orang yang melihat dan menegurnya sehingga dia lari pulang ke rumahnya.

Hingga rumah, si kakak yang serakah itu selalu terbayang-bayang pada karung ajaib yang di miliki oleh adiknya. Sifat tamak dan serakahnya mendorong akal liciknya untuk melakukan hal-hal kotor. Dia berniat mencuri karung ajaib itu.
"Jika aku dapat memiliki karung ajaib itu, maka aku akan menjadi manusia terkaya sedunia. Hahaha..". Katanya dalam hati.

Hingga pada suatu malam, di lakukanlah rencana jahat sang kakak. Ketika adiknya tengah tertidur lelap, dia mencuri karung ajaib milik si adik. Lalu dia membawanya lari dan menaiki sebuah perahu miliknya bertujuan untuk pergi sejauh mungkin ke negeri seberang. Dia berniat akan memulai hidup baru di sana dan menjadi orang terkaya yang tak tertandingi. Perjalanan menyeberangi laut membutuhkan waktu yang cukup panjang, dia telah menyiapkan banyak bekal makanan di dalam perahunya sebagai persiapan.

"Hahaha.. Ahirnya semua keinginan ku akan ku capai. Adik ku yang bodoh itu tak akan dapat menemukan ku. Hmm.. Kini saatnya aku mencoba ke ajaiban karung ini. Aku akan meminta hal yang remeh dulu sebagai percobaan. Kebetulan aku kehabisan garam. Maka aku akan minta karung ini mengeluarkan garam". Kata si kakak.
Lalu dia pun membaca mantera seperti yang dia curi dengar waktu mengintip adiknya, dan dia meminta karung ajaib untuk mengeluarkan garam. Dan sebagaimana keajaiban terjadi, karung itu mengeluarkan garam seperti yang di minta.

"Nah, aku rasa garam ini sudah cukup. Wahai karung ajaib, sekarang berhenti mengeluarkan garam". Perintah si kakak.
Tapi ternyata karung itu tetap mengeluarkan garam. Semakin lama semakin banyak hampir memenuhi perahu.
"Hai karung bodoh, ku bilang berhenti. Berhenti mengeluarkan garam.. Kau ingin membuat perahu ini tenggelam?". Teriak sang kakak panik.

Tapi karung itu tetap tak mau berhenti. Karena si kakak tak tahu mantera penutupnya. Sewaktu dia mengintip dulu, dia tidak melihat apa yang di lakukan adiknya hingga usai. Ahirnya, si kakak yang serakah itu tenggelam bersama kapalnya. Garam yang terus keluar tanpa henti telah membuat kapalnya kelebihan muatan dan ahirnya karam ke dasar laut.

Konon kabarnya, karung ajaib itu terus mengeluarkan garam tanpa henti. Hingga hal tersebut membuat air laut menjadi sangat asin dan memiliki kadar garam yang tinggi.

Air laut sekarang menjadi tak lagi bisa di minum. Seolah menjadi peringatan dan gambaran orang-orang yang tamak dan serakah. Ketika kau dahaga dan meminum air laut. Maka air itu hanya akan menambah rasa dahaga mu. Ibarat orang serakah yang selalu merasa kurang dengan apa yang di miliki.

TAMAT

Nah pembaca setia blog dongeng terbaru. Dari kisah ini kita dapat mengambil banyak hikmah. Bahwa sifat tamak dan serakah hanya akan membawa celaka di kemudian hari. Karena keserakahan akan selalu mendorong untuk melakukan hal-hal bodoh. Semoga dongeng anak kali ini dapat menjadi hiburan serta teladan yang baik. Jangan lupa untuk berkunjung lagi. Dan sampai jumpa pada dongeng anak terbaru berikutnya ya.. ^_^


Story by: Muhammad Rifai

Cerita Tiga Pengelana dan Tiga Permintaan

Apa kabar sobat dongeng? Sehatkan? Nah, pada cerita kali ini, kita akan belajar arti dari sebuah tanggung jawab. Terkadang orang yang menjanjikan sesuatu di kala susah, sering lupa menepatinya di kala mereka telah hidup dalam kemewahan. Begitupun tokoh yang ada dalam cerita dongeng kali ini. Maka, mari kita baca bersama dan ambil pesan positifnya.

Dahulu kala, di sebuah desa hiduplah seorang pemuda miskin. Dia tinggal bersama ibu dan kedua adiknya. Tapi meski hidup dalam kekurangan, mereka tak pernah mengeluh. Tapi yang sering menjadi fikiran pemuda itu adalah, keinginanya yang kuat untuk bisa menuntut ilmu. Tapi karena keterbatasan ekonomi yang di miliki keluarganya, dia tak mampu sekolah ke kota seperti teman-temanya.

Hingga pada suatu hari waktu dia menjual kayu bakar yang sudah di kumpulkanya dari hutan ke warung langgananya, ada dua orang pengelana yang tengah bercakap-cakap di warung itu. Mereka sedang asik bercerita tentang adanya orang suci yang tinggal di kawasan timur, dan orang suci ini memiliki do'a yang selalu terkabul. Apapun yang dia minta, pasti di kabulkan oleh sang pencipta. Hingga banyak orang dari seluruh penjuru dunia datang padanya dan minta di do'akan. Ternyata, dua pemuda pengelana itu juga baru saja bertemu di warung itu. Secara tak sengaja, mereka memiliki tujuan yang sama dan memutuskan untuk melalui perjalanan bersama-sama pula. Mendengar cerita dua pemuda pengelana itu, membuat pemuda miskin itu menjadi sangat tertarik. Dia berhayal umpama saja cita-citanya selama ini bisa terkabul, pasti dia akan sangat bahagia.

Ahirnya, pemuda miskin itu berusaha memberanikan diri berbicara pada dua pengelana tersebut. Dia berharap, dirinya di izinkan untuk ikut dengan mereka. Bahkan dia bersedia menjadi pembantu yang siap mengurusi segala kebutuhan mereka asal mereka mau mengizinkanya ikut. "Sepertinya kami memang butuh pelayan selama perjalanan.. Baiklah, kau boleh ikut. Tapi harus mampu melayani semua keperluan kami dengan baik selama di perjalanan..". Kata salah satu pengelana itu. Mendengar jawaban itu, pemuda miskin itu sangat senang. Dia lalu pulang dan meminta izin pada ibunya untuk melakukan perjalanan selama beberapa waktu demi meraih cita-citanya. Setelah semua keinginanya terkabul, dia akan segera pulang. Melihat tekad yang kuat dari anaknya, sang ibu hanya bisa memberi izin serta do'anya. Dia juga memberikan sekeping uang perak yang selama ini di simpanya sebagai bekal perjalanan anaknya. Perpisahan keluarga ini, begitu di liputi dengan rasa haru..

Tiga bulan sudah berlalu. Ketiga pemuda itu sudah berjalan melewati lembah, gunung, sungai, hutan, dan padang pasir. Ahirnya sampailah mereka di tempat tujuan mereka. Ketika sampai di sana orang suci yang dapat membaca isi hati itu langsung tau apa tujuan mereka, dan kesulitan apa saja yang harus mereka lalui agar bisa sampai di tempat itu. "Hai pengelana, aku tahu kalian menempuh perjalanan yang cukup sulit untuk sampai kesini. Aku merasa tersentuh dengan tekad kalian. Maka, katakan apa yang menjadi ke inginan mu. Maka aku akan mendo'akan satu permintaan untuk masing-masing dari kalian". Mendengar perkataan orang suci itu, pemuda pertama langsung saja maju dengan bersemangat. "Wahai orang suci, aku ingin bisa menjadi orang yang di beri kekayaan berlimpah. Maka do'akan lah aku". Kata pemuda pertama itu.

Lalu orang suci itupun memanjatkan do'a, lalu dia berkata pada pemuda pertama itu, " Pergilah ke arah barat, maka kau akan mendapat tujuan mu". Mendengar itu, pemuda pertama itu merasa senang, dengan semangat dia lalu menuju arah barat untuk mendapatkan tujuanya. Ketika dia sampai di sebuah padang ilalang, dia melihat ada sekelompok orang yang coba menjarah kereta dagang. Dengan sigap dia menolong kereta dagang itu, dan karena kemahiranya dalam bermain pedang, membuat semua bandit itu lari ketakutan. Ahirnya, dia di jadikan menantu oleh pedagang itu, dan ahirnya menjadi orang yang kaya raya.

Beberapa saat setelah kepergian pemuda pertama, pemuda ke dua maju untuk mengutarakan ke inginanya. " Wahai orang suci, aku ingin menjadi seorang raja yang memiliki kerajaan cukup besar, maka do'akan aku agar mimpi ku terkabul". Lalu orang suci itu berdo'a, setelah itu orang suci itupun berkata.. " Berjalanlah ke arah selatan, maka kau akan temukan tujuan mu". Mendengar itu, pemuda ke dua itupun sangat senang. Dia langsung bergegas berjalan ke arah selatan. Hingga pada ahirnya, dia sampai pada sebuah kerajaan yang cukup besar. Tapi kerajaan itu cukup sepi, penduduknya terlihat sangat sedih tanpa ada keceriaan yang terpancar. Ternyata, putri kerajaan itu mengalami sakit keras. Sudah ribuan tabib yang coba datang mengobati, tapi tak ada yang berhasil. Hingga sang raja berjanji, siapapun orang yang mampu menyembuhkan puteri kesayanganya, maka dia akan di nikahkan dengan sang putri dan di angkat menjadi raja. Mendengar hal itu, pemuda ke dua itu langsung datang ke istana. Dia lalu mencoba membuat ramuan warisan keluarganya untuk mengobati sang puteri. Dan ajaibnya, sang putri bisa sembuh dan sehat dengan cepat. Melihat hal itu, sang raja menjadi sangat senang. Lalu pemuda itu di nikahkan dengan puterinya, dan setelah sang raja wafat, pemuda itu di angkat sebagai raja penerusnya. Maka, mimpi pemuda itu sudah terkabul.

Kini, tinggal pemuda miskin yang masih tersisa, dia masih diam belum mengajukan permintaanya. " Wahai pemuda.. Apa yang jadi ke inginan mu? Cepat utarakan, maka aku akan mendo'akan agar harapan mu di kabulkan". Tanya orang suci itu. " Wahai orang suci, aku tak mau harta ataupun tahta. Karena ke duanya dapat hilang dan akan musnah pada ahirnya. Aku ingin, kau mendo'akan aku agar aku menjadi orang yang berpengetahuan luas. Sehingga ilmu ku memberi manfa'at bagi sesama". Mendengar jawaban pemuda itu, orang suci itu hanya tersenyum. Kemudian dia memejamkan mata dan memanjatkan do'anya, lalu dia berkata.. " Wahai pemuda baik, tinggalah di sini selama dua bulan. Maka aku akan mengajari mu tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Dengan kecerdasan yang kau miliki, kau akan mampu menyerap tiap pengetahuan yang ku ajarkan dengan cepat". Mendengar itu, pemuda miskin itu menjadi sangat senang. Maka selama dua bulan, dia tinggal dan belajar pada orang suci itu. Setelah masa dua bulan habis, pemuda itu di suruh pulang untuk mengamalkan dan mengajarkan tiap pengetahuan yang dia dapat. Ahirnya setelah beberapa waktu berlalu, pemuda itu menjadi orang yang cukup terpandang. Banyak sekali orang dari penjuru dunia datang ke tempatnya dan menjadi muritnya. Hingga desa kecil itu kini menjadi kota besar yang sangat ramai. Dan pemuda itu kini memiliki bangunan sekolah serta rumah yang sangat mewah karena pemerintah merasa senang dan memberinya bantuan demi kemajuan dunia pendidikan. Maka, mimpi pemuda ini juga terkabul. Lalu, bagaimana ahir ceritanya?

Beberapa tahun sudah berlalu. Pemuda pertama yang ingin agar menjadi kaya itu kini memiliki kekayaan yang melimpah. Tapi sayang, kekayaanya membuat dirinya sangat angkuh dan sombong. Bahkan dia juga meminjamkan uang dengan bunga melebihi 3x lipat. Hal itu membuat dirinya sangat di benci. Baik oleh tetangga bahkan anak buahnya sendiri. Hingga pada suatu hari rumah dan gudang hartanya kebakaran. Dia berteriak minta tolong, tapi karena banyak yang membencinya sebab kesombonganya, tak ada satupun orang yang sudi menolong. Ahirnya, semua harta kekayaan miliknya habis, isterinya juga pergi meninggalkanya karena dia sudah miskin. Kini, pemuda pertama itu menjadi pengemis dan gelandangan.

Sedangkan pemuda ke dua yang menjadi raja, ternyata dia mulai di butakan kekuasaan. Dia menjadi raja yang sangat angkuh, arogan, dan juga kejam. Bahkan dia menaikan pajak hingga sangat tinggi, sehingga membuat rakyatnya menderita. Hingga pada ahirnya, kerajaan miliknya di serang kerajaan lain. Para rakyat dan prajurit, tak ada yang mau membantu untuk pergi berperang. Mereka malah memilih menyerahkan diri pada kerajaan lawan dengan senang hati, karena kerajaan lawan di kenal memiliki raja yang sangat arif dan bijaksana. Hal tersebut membuat para pasukan musuh dapat masuk dan menguasai kerajaan itu dengan mudah. Sedangkan pemuda ke dua yang jadi mantan raja itu, kini hidup dalam pelarian. Banyak yang mencarinya untuk di adili, maka dia hidup berpindah-pindah dengan menyamar dan kini juga menjadi gelandangan. 



Lalu, bagaimana dengan nasib pemuda ke tiga? Kini, pemuda ke tiga yang dulu miskin telah menjadi seorang cendikiawan besar. Di juga menjadi penasehat kepercayaan raja. Dia memiliki sebuah fasilitas pendidikan yang cukup besar dengan murit mencapai puluhan ribu orang. Dia juga memiliki rumah yang cukup megah dengan semua fasilitas yang di jamin oleh kerajaan. Kini dia, ibu, dan ke dua adiknya hidup bahagia. Semua karena ilmu pengetahuan yang pernah di pelajarinya, mengajarkanya, dan mau berbagi pada sesasam. Nah, sudah tahu bagaimana ahir kisahnya kan? Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita ini. Dan untuk membantu perkembangan blog ini ke depan, bantu buat di share ya ke teman-teman. Baik via facebook, Twitter, Google+, atau yang lain. Terimakasih.. ^-^

THE END

Story by: Muhammad Rifai

KISAH CINDERELA dan SEPATU KACA

Al-kisah, pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga yang bahagia. Mereka adalah keluarga terpandang dan kaya di daerah itu. Mereka memiliki seorang puteri yang cantik dan sangat mereka sayangi. Cinderela, itulah nama anak itu. Pada suatu hari, sang ibu jatuh sakit. Semakin hari sakit yang di derita semakin parah, ahirnya sang ibu meninggal dunia. Maka tinggalah cinderela bersama ayahnya yang sangat menyayanginya.



Waktupun terus berlalu, hingga pada suatu waktu.. ahirnya sang ayah kembali menikah dengan seorang janda yang  memiliki dua orang puteri. Tapi ternyata, ibu tiri cinderela tidak benar-benar mencintai ayahnya. Dia hanya mengincar harta kekayaan yang di miliki oleh ayah cinderela. Jika ayahnya ada di sampingnya, cinderela selalu di manja oleh ibu tirinya. Akan tetapi ketika cinderela sendirian, ibu tirinya sering memarahinya dan memperlakukanya seperti seorang pembantu. Tapi cinderela berusaha tabah dan sabar, karena dia tak mau melihat ayahnya bersedih.

Hingga pada suatu hari, sang ayah pergi berpamitan berlayar ke negeri seberang untuk berdagang. Akan tetapi kabar buruk dating tiga hari kemudian. Ternyata kapal yang di tumpangi ayahnya karam karena tersapu badai. Mendengar kabar itu, cinderela menjadi sangat bersedih. Karena kini dia hidup sebatang kara di dunia ini. Sedangkan ibu dank e dua kakak tirinya merasa sangat gembira mendengar kabar itu. Karena dengan kematian ayah cinderela, maka mereka akan dengan leluasa menguasai semua harta cinderela dan ayahnya. Dan mulai hari itu, perlakuan yang di dapat cinderela semakin menjadi. Dia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti seorang pembantu. Tak boleh keluar kecuali hanya pergi ke kebun untuk memetik buah dan sayur.

Tapi cinderela tidak membiarkan kesedihanya berlarut-larut. Dia membuat dirinya terhibur dengan berteman bersama binatang peliharaanya dan burung-burung yang bernyanyi. Dia yakin, suatu saat kebahagiaan akan dating menghampirinya. Hingga pada suatu hari, datanglah surat undangan dari kerajaan ke rumah cinderela. Undangan itu berisi kabar akan di adakanya pesta dansa di kerajaan dalam rangka mencarikan calon isteri untuk sang pangeran. Maka semua keluarga yang memiliki anak perempuan di perintahkan untuk membawa serta semua anak perempuanya ke pesta tersebut.

Ternyata cinderela mendengar kabar yang di bawa oleh pembawa pesan raja tersebut dari dalam dapur. Dia memang di kunci di dapur oleh ibu tirinya agar tak bisa keluar. Cinderela sangat senang mendengar kabar itu. Mimpinya untuk mendapat kebahagiaan sepertinya sudah ada di depan mata. Dengan ikut ke pesta dansa tersebut, dia punya harapan untuk bertemu dengan pangeran yang kabarnya sangat tampan. Tapi apakah semua sesuai dengan harapan cinderela? Ternyata tidak..!! kekejaman ibu tirinya tengah berlanjut dan semakin menjadi. Cinderela tidak di perbolehkan ikut ke pesta dansa kerajaan. Alasanya jelas.. karena cinderela memiliki paras yang sangat cantik. Sehingga ibu tirinya hawatir jika cinderela di pilih oleh sang pangeran sebagai permaisurinya.

Cinderela menjadi sangat sedih dan putus asa. Serpanjang hari dia di suruh oleh ke dua kakak tirinya menyiapkan pakaian terbagus dan merias mereka dengan cantik. Sedangkan cinderela sendiri masih berpakaian lusuh, kotor, dan penuh debu. Ketika ibu dan kedua kakak tirinya tengah meniaki kereta kuda menuju kerajaan menghadiri pesta dansa, cinderela hanya bisa termenung di pojok dapur. Dia menangis dan sangat bersedih atas nasib yang menimpa dirinya. Harpan dan mimpi indahnya kini sirna dan hanya tinggal mimpi semu..

Tapi keajaiban terjadi.. ketika cinderela tengah menangis, tiba-tiba dating ibu peri menghampirinya. Dia tahu nasib yang di alami cinderela, karena selama ini ibu peri selalu mengamati cinderela. Ahirnya dengan kemampuan ajaib ibu peri, ibu peri berjanji akan membantu cinderela agar bisa dating ke pesta dansa. Dengan ayunan tongkat ajaib, ibu peri mengubah lima ekor tikus menjadi kuda dan saisnya, serta mengubah sebuah labu menjadi kereta kuda yang sangat indah. Tak lupa ibu peri juga member gaun yang sangat indah, dan dua buah sepatu kaca yang membuat kecantikan cinderela semakin terpencar seperti bintang.

Tapi ibu peri berpesan akan satu hal.. Cinderela harus sudah pulang sebelum jam 12 malam berdentang. Karena semua keajaiban itu hanya bertahan hingga tengah malam. Dan ketika sudah lewat tengah malam, maka semuanya akan kembali ke bentuk semula. Dan cinderela menyanggupi permintaan ibu peri. Ahirnya.. berangkatlah cinderela ke pesta dansa istana dengan segala kemewahan yang kini di milikinya. Dia berkilau bak seorang puteri kerajaan yang sangat cantik. Hingga membuat semua yang dating ke pesta itu menjadi sangat terpana. Tak terkecuali sang pangeran. Lalu sang pangeran menghampiri cinderela dan mengajaknya berdansa bersama. Tentu saja hal tersebut membuat semua wanita yang hadir di pesta itu menjadi sangat iri, termasuk ke dua saudara tiri cinderela. Mereka bertanya-tanya.. siapakah gerangan puteri yang sangat cantik itu.

Waktupun terus berlanjut.. karena terlalu asik berdansa dengan sang pangeran, cinderela lupa dengan pesan ibu peri. Dia mulai sadar ketika dia mendengar jam mulai berdentang. Dengan panik dia pun berpamitan pada pangeran dan berlari meninggalkan pesta dansa itu. Tapi karena rasa penasaran yang teramat sangat, sang pangeran mencoba mengejar untuk bertanya siapa nama puteri yang baru berdansa denganya tadi. Dia merasa.. dia tengah jatuh cinta. Tapi cinderela tetap tak berhenti.. sekuat tenaga dia berlari hingga salah satu sepatu kacanya terlepas dan tak sempat dia ambil. Dia langsung menaiki kereta kudanya dan pulang menuju rumahnya.

Sementara itu, seaptu kaca cinderela yang tertinggal di temukan oleh sang pangeran. Karena rasa penasaran dan rasa cinta yang dia rasakan, sang pangeran menitahkan pada para perajuritnya untuk mencari tahu siapa pemilik sepatu kaca tersebut. Dia memerintahkan agar tiap rumah yang memiliki anak gadis di kerajaan itu di kunjungi, dan satu persatu di suruh mencoba sepatu kaca tersebut. Maka siapapun wanita yang kakinya pas dengan sepatu kaca tersebut, akan menikah dengan pangeran. Kabarpun tersebar ke seluruh negeri. Sehingga tiap keluarga yang memiliki puteri menyuruh puterinya untuk berdandan secantik mungkin ketika pengawal kerajaan dating membawa sepatu itu. Mereka berharap, sepatu kaca itu akan cocok dengan kaki puterinya. Tak terkecuali ibu dan kedua kakak tiri cinderela.

Mendengar kabar bahwa utusan istana itu akan singgah di rumah mereka, mereka segera berdandan secantik mungkin. Sedangkan cinderela di kunci oleh ibu tirinya dalam kamar agar tak di beri kesempatan ikut mencoba sepatu kaca itu. Mereka takut, jika ternyata sepatu itu cocok dengan kaki cinderela. Ahirnya utusan itu tiba juga.. lalu satu persatu kakak tiri cinderela mencoba sepatu kaca itu. Tapi tak ada satupun kaki mereka yang benar-benar cocok. Ada yang terlalu longgar, bahkan ada yang kakinya terlalu besar hingga tak muat. Lalu sang utusan kerajaan bertanya”Apakah anda masih memiliki puteri yang lain?”. “Tidak.. tidak ada… puteri ku hanya dua ini saja..”. kata ibu tiri cinderela berbohong.

“Tapi menurut yang saya dengar, anda masih memiliki seorang puteri lagi?”. Tanya utusan itu tak percaya. “iya memang.. tapi tak mungkin sepatu kaca ini miliknya. Lagi pula.. wajahnya sangat buruk. Dia juga tak pernah keluar rumah. Jadi tak mungkin jika sepatu kaca ini miliknya. Karena dia tak pernah ikut dating ke pesta dansa”. Kata ibu tiri. “Bagimana mungkin? Bukankah undangan ke pesta dansa di tujukan untuk semua anak perempuan? Bagaimana mungkin dia tak ikut? Jika karena anda yang melarangnya, maka anda dapat di kenakan hukuman berat karena melawan perintah raja. Sekarang.. cepat bawa puteri mu yang satunya ke mari. Atau kau akan di hokum karena melawan titah raja..”. kata utusan itu marah.

Ahirnya dengan ketakutan, ibu tiri cinderela membawa cinderela yang dari tadi dia kunci dalam kamar dapur. Dan betapa terkejutnya mereka, ketika melihat sepatu kaca itu benar-benar cocok dengan kaki cinderela. Dan keajaiban kembali terjadi. Ketika cinderela juga memakai sepatu kaca satunya yang dia simpan di bawah tempat tidurnya, seketika itu dia kembali berubah menjadi seorang puteri dengan gaun indah yang sangat cantik. Dan sang pangeranpun menjadikan cinderela sebagai permaisurinya sebagaimana pengumuman yang dia buat. Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya. Sedangkan ibu dan kedua kakak tiri cinderela, di beri hukuman oleh sang pangeran karena kekejaman mereka. Dengan menjadikan mereka sebagai pelayan di dapur istana. Dan pada ahirnya.. kebaikan pasti selalu berahir dengan bahagia..

THE END

Story by: Muhammad Rifa’i

KISAH si SERAKAH dan BATU AJAIB

Pada zaman dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang hidup miskin. Mereka tinggal di sebuah desa dan bekerja serabutan. Kadang mencari kayu bakar untuk di jual, kadang menjadi buruh tani, atau di sewa oleh tetangga mereka untuk suatu pekerkjaan. Sebenarnya keluarga itu tak sendiri, karena si lelaki memiliki seorang kakak yang sangat kaya. Paling kaya di kampung itu.



Tapi kakak itu adalah orang yang sangat pelit, serakah, dan sombong. Meski saudaranya hidup susah dan kelaparan, dia tak pernah perduli. Baginya yang terpenting adalah memiliki harta melimpah dan bergelimang kemewahan. Tapi si adik sadar betul akan sifat kakaknya itu. Oleh karena itu, sesulit apapun kehidupanya.. dia tak pernah mengeluh dan meminta bantuan pada kakaknya. Karena dia tahu, pasti kakaknya akan menolak memberikan bantuan.

Pada suatu hari si suami dari keluarga miskin itu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar sebagaimana hari-hari biasanya. Tak lupa dia membawa mantel hujan kesayanganya untuk jaga-jaga jika turun hujan. Meski hari sangat terik, mantel hujan itu tetap di bawanya. Sebuah mantel sederhana yang di rangkai dari daun ilalang kering yang di rajut dengan tali.

Sebagaimana kebiasaanya pula, dia selalu menaruh mantel hujanya di atas sebuah batu besar di dekat tempatnya mencari kayu bakar, dan dia sendiri memunguti ranting dan kayu di sekitar kawasan itu. Setelah di rasa kayu yang di dapatnya cukup, dia kemudian mengikat kayu itu dengan tali kemudian memanggulnya di bahu. Hari sudah beranjak sore, karena lelah.. si suami tersebut duduk istirahat di dekat batu yang dia gunakan untuk menaruh mantelnya.

Tapi ketika dia sedang asik bertistirahat menikmati angin sepoi-sepoi, tiba-tiba dia mendengar  suara..
“Hai anak muda.. tolong angkat mantel mu dari atas tubuh ku, aku merasa sangat kepanasan. Tipa hari kau menaruh mantel di atas ku. Kau tak tahu bagaimana rasanya panas dan lembab yang ku rasa. Ambil segera mantel mu, maka aku akan member mu hadiah..”. kata suara itu.
Tentu saja si miskin itu menjadi kaget dan ketakutan. Karena dia mendengar suara, tapi tak satupun orang dia temui di tempat itu.
“Si.. siapakah yang bicara pada ku? Apakah hantu?”. Kata si miskin tergagap.

“Hahaha.. kau ini memang pemuda yang lucu. Aku di sini, tertutup mantel hujan mu. Aku bukan hantu, aku adalah  batu yang ada di bawahnya”. Jawab batu ajaib itu.
“Dengan tubuh gemetar karena takut, si miskin mengambil mantelnya dari batu ajaib itu.
“Ma.. ma’af.. aku tak bermaksud mengusik ketenangan mu. Aku ke sini hanya untuk bekerja mencari kayu bakar..”. kata si miskin masih ketakutan.
“Sudahlah.. kau tak usah takut pada ku. Aku tak akan menyakiti mu. Aku adalah batu ajaib. Sudah ratusan tahun lamanya aku tinggal di sini. Karena kemampuan ku yang ajaib, banyak orang mencari keberadaan ku. Aku tahu kamu adalah pemuda yang rajin dan baik hati. Kamu sangat tekun, aku selalu memperhatikan mu setiap hari. Oleh karena itu, aku akan member mu hadiah seperti yang ku janjikan..”. kata batu ajaib itu.

“Hadiah? Hadiah apa?”. Tanya si miskin mulai terbiasa dan tak takut lagi.
“Besok kamu datanglah lagi ke sini dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta. Maka besok kau akan tahu sendiri hadiah apa yang aku berikan”. Kata batu ajaib itu.
Si miskin itu hanya mampu menuruti kemauan batu ajaib. Dia ingin menolak tawaran itu, tapi takut jika penolakanya akan membuat batu itu marah. Ahirnya, si miskin itupun pulang ke rumahnya. Lalu pada keesokan harinya dia kembali ke tempat itu dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta.

“Bukalah mulut karung mu lebar-lebar, lalu dekatkan kea rah ku”. Kata batu ajaib itu.
Si miskin pun menurutinya. Tak di sangka, batu itu kemudian membuka seperti sebuah mulut. Dan dari mulut batu itu keluar banyak sekali uang emas yang hamper memenuhi isi karung itu.
“Apakah ini sudah cukup bagi mu?”. Tanya batu ajaib.
“Wah.. sepertinya ini lebih dari cukup. Apa pemberian mu ini tak terlalu banyak?”. Kata si miskin dengan polosnya.
“Hahaha.. kau ini memang pemuda yang baik. Kebanyakan orang akan bilang jika apa yang ku berikan sekarang masih kurang”. Kata batu ajaib itu.
“Sudah.. sudah.. terimakasih batu ajaib, ini sudah lebih dari cukup untuk ku’. Kata si miskin kemudian berpamitan untuk pulang.

Setelah kejadian itu, si adik yang miskin itu kini berubah menjadi kaya raya. Memiliki rumah yang cukup megah dan harta yang melimpah. Tapi semua itu ternyata tak membuatnya berubah. Dia tetap rendah hati dan baik hati pada sesama. Melihat adiknya yang tiba-tiba kaya mendadak, si kakak yang pelit dan serakah pun menjadi penasaran. Dia lalu mengunjungi adiknya itu dan bertanya bagaimana dia mendapatkan harta sebanyak itu. Dengan lugunya si adik pun menjelaskan dari mana dia mendapat harta itu pada kakaknya.

Setelah mendapat informasi dari adiknya, paginya si kakak pergi ke hutan. Dia pura-pura mencari kayu bakar, dan tak lupa dia juga membawa mantel hujan seperti yang di lakukan adiknya. Dia pun melakukan hal yang sama seperti adiknya, tapi bedanya dia memiliki niat licik yang terselubung. Sebentar-sebentar dia mendekati batu itu sambil berkata.. “Wah.. udaranya begitu panas.. aku jadi merasa kepanasan”. Katanya. Berulang kali dia mengulangi hal serupa, tapi batu itu tetap diam tak ada respon sama sekali.

Lama-lama si kakak yang serakah itu menjadi jengkel.. “Aku akan memaksa mu untuk bicara”. Kata si kakak serakah dalam hati.
Dia lalu mengumpulkan beberapa batu kecil dan menumpuknya di atas batu ajaib itu. “Wah.. apa masih kurang panasdan kurang berat. Ayo bicara..!! kalau tidak, akan ku carikan batu yang lebih besar”. Katanya mengancam.
Ahirnya karena tak tahan, batu ajaib itupun bicara..
“Baiklah.. baiklah.. singkirkan semua batu dan mantel hujan mu dari atas tubuh ku, maka aku akan member mu hadiah. Besok, datanglah kamu ke sini dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta’’. Kata  batu ajaib.

Mendengar jawaban dari batu ajaib itu, si kakak yang serakah itupun menjadi sangat senang. Dia lalu menyingkirkan semua batu dan mentel hujanya lalu pulang ke rumahnya. Pada keesokan harinya, dia kembali lagi ke tempat itu dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta. Sebagaimana adiknya dulu, karungnya pun di isi dengan banyak koin emas oleh batu ajaib itu, bahkan hamper penuh.
“Apakah sudah cukup?” Tanya batu ajaib.
“Belum.. masih kurang, ayo tambahkan lagi..”. kata si kakak yang serakah itu.

Lalu batu ajaib itupun kembali mengeluarkan koin emas. Bahkan hingga karunng itu penuh..
“Apakah sudah cukup sekarang?”. Tanya batu ajaib.
“Masih belum.. ayo tambah lagi”. Jawab si kakak serakah.
Batu ajib pun kemudian kembali mengeluarkan koin emas dari mulutnya, kali ini sampai karung itu sudah sangat penuh dan hamper robek..
“Apakah sekarang sudah cukup?”. Tanya batu ajaib lagi.
“Masih belum.. ayo tambahkan lagi..”. kata si serakah itu.

“aku sudah tak memiliki koin emas lagi. Semua sudah habis.. “. Jawab batu ajaib.
“Ah.. tidak mungkin..!! kau pasti bohong. Aku akan mengambilnya sendiri..”. kata si kakak serakah sambil memasukan tanganya ke mulut batu ajaib.
Tapi ketika tanganya masuk ke dalam mulut batu ajaib, mulut batu itu tertutup dengan rapat. Sehingga tanganya terjebak tak bisa di keluarkan. Sudah berbagai daya upaya dia lakukan untuk melepaskan diri, tapi dia tetap tak mampu melepaskanya.

Ahirnya.. kakak yang serakah itupun terjebak di tempat itu. Kehujanan, kepanasan, dan tiap hari isterinya dating untuk mengantar makanan untuknya. Hal tersebut berjalan hingga tiga tahun. Semua hartanya habis, karena tiap hari di gunakan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya tanpa ada kepala keluarga yang bekerja.  
“Pak.. kita sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk di jual. Aku tak tahu sampai kapan persediaan makanan kita cukup”. Kata isterinya pada suatu hari.
Mendengar perkataan isterinya.. si suami menjadi sangat sedih. Dia merasa kasihan pad keluarga yang selama ini merawatnya, lebih-lebih isterinya yang sangat setia.
“Aku minta ma’af bu.. ini semua karena salah ku. Jika saja dulu aku tak terlalu serakah, pasti keadaan kita tak akan begini. Kalau begitu, lebih baik aku memotong tangan ku ini dari pada membuat mu susah terus..”. kata si suami.

Tiba-tiba ketika si suami yang serakah itu menyatakan penyesalanya, mulut batu ajaib itupun terbuka. Dan dengan segera si suami serakah yang telah sadar itu menarik tanganya. Kemudioan dia dan isterinya lari meninggalkan tempat itu tanpa berani kembali lagi. Hikmah dari kisah ini tentu sudah dapat kita fahami. Bahwa keserakahan adalah sifat yang dapat merugikan diri sendiri di kemudian hari. Dan penyesalan selalu datang terlambat..

THE END

Story By: Muhammad Rifai

Dongeng Katak dan Monyet yang Rakus

Pada zaman dahulu, ada seekor katak dan monyet yang bersahabat. Tapi hubungan mereka sering hanya menguntungkan sebelah pihak. Katak yang baik hati sering di kelabuhi dan di manfa’atkan oleh si monyet demi kepentingan pribadinya. Tapi si katak selalu dapat mema’afkan si monyet karena menganggapnya sebagai sahabat.



Berbeda dengan sifat si katak, sifat si monyet sangat berlawanan. Monyet itu sangat licik, banyak akal, dan sangat rakus. Tak jarang dia di jauhi oleh teman-temanya karena sifatnya tersebut. Tapi memang sudah dasar dari wataknya, hal tersebut tidak membuat monyet itu sadar akan kesalahanya.

Sebagaimana julukan yang di sandangnya sebagai monyet yang rakus, monyet itu sangat senang sekali makan. Buah pisang adalah makanan favoritnya. Dia sering mencuri buah pisang di kebun pak tani. Tapi terahir kali dia mencuri buah pisang, dia hampir tewas karena di kejar-kejar oleh pak tani yang ingin menangkapnya karena ulah nakalnya.

Hingga pada suatu hari saat monyet itu tengah melamun sendiri, di teringat pada katak sahabatnya. Dia berniat untuk mengajak sahabatnya tersebut untuk menanam buah pisang sendiri. Jika dia punya buah pisang sendiri, tentu dia tak harus repot membahayakan dirinya hanya untuk mencuri buah pisang milik pak tani yang sangat galak.

Ahirnya, dia pun menemui si katak yang tinggal di pinggir sebuah sungai. Ketika mendengar idedari si monyet untuk mengajaknya menanam pohon pisang sendiri, si katak sangat senang dan menyambutnya dengan antusias.
“hai katak sahabat ku, jika kita memiliki pohon pisang sendiri.. tentu kita bias tiap hari makan enak. Bayangkan lezatnya buah pisang yang sangat manis dan menggiurkan itu”. Kata si monyet merayu.
“wah, benar sekali ide mu itu. Aku juga ingin sekali dapat memakan buah pisang. Tapi karena aku tak bias memanjat, aku tak pernah bias memakanya”. Kata si katak.

“Kau tak  usah hawatir sahabat ku, jika kau tak bias memanjat.. maka aku yang akan memanjat dan mengambilkanya untuk mu”. Kata si monyet lagi.
“Baik lah.. kalau begitu mari kita mencari pohon pisang. Kita tunggu saja di tepi sungai ini, karena biasanya ada pohon pisang yang hanyut terbawa arus”. Kata si katak.

Ahirnya mereka pun menunggu ada pohon pisang yang hanyut terbawa arus sungai. Beberapa saat kemudian, mereka melihat ada sebatang pohon pisang yang terlihat mengambang terbawa arus.
“Hai katak sahabat ku, itu ada pohon pisang yang hanyut. Cepatlah kau berenang ke sana dan seret pohon itu ke pinggir sungai. Aku tak bias mengambilnya karena aku tak bias berenang”. Kata si monyet.

Si katak pun mengikuti saran monyet temanya itu. Dia berenang ke tengah sungai dan menyeret pohon pisang itu ke pinggir sungai.
“sekarang kita tunggu lagi pohon pisang yang hanyut. Agar aku dan kamu sama-sama memiliki satu pohon untuk di tanam”. Kata monyet.
“Baiklah.. kita tunggu saja di sini”. Kata si katak.

Tapi setelah lama mereka menunggu, tak ada satu pun pohon pisang yang dapat mereka temukan lagi. Hingga sore menjelang, tak ada lagi pohon pisang yang hanyut terbawa arus sungai.
“Sepertinya tak ada lagi pohon pisang yang hanyut hari ini. Kalau begitu pohon ini biar aku bawa, dan kamu tunggu saja pohon pisang berikutnya esok hari”. Kata si monyet.
“ah, tidak bias. Kan aku yang mengambil pohon pisang ini dari sungai. Jadi pohon pisang ini seharusnya menjadi milik ku”. Kata si katak sedikit protes.

Monyetpun mencari akal agar dia dapat menipu si katak demi ke untungan dirinya sendiri.
“Baiklah kalau begitu. Agar lebih adil, bagai mana kalu pohon pisang ini kita bagi dua”. Kata si monyet.
“Hmm.. ide yang bagus. Baiklah kalau begitu..’. jawab si katak.
“Aku dapat bagian atas, kamu dapat bagian bawah”. Kata si monyet. Dia berusaha menipu si katak dengan memberinya bagian pangkal pohon. Karena dia berfikir, pada pohon pisang yang berbuah adalah bagian atas. Jadi dia meminta bagian atas agar cepat berbuah.

“Kok begitu? Kamu curang monyet. Yang berbuah kan bagian atas, bagaimana aku dapat bagian pangkal pohon. Mana mungkin bias berbuah?”. Tanya si katak.
“Jangan hawatir sahabat ku. Walaupun bagian pangkal, jika kau rawat dengan baik pasti juga dapatberbuah. Kan kita ini sahabat, mana mungkin aku menipu mu”. Kata si monyet menjalankan siasatnya. Dan ahirnya si katak dengan berat hati menerimanya. Karena dia yakin, bahwa sahabatnya itu tak mungkin menipu dirinya.

Ahirnya, mereka berdua membawa bagian pohon pisang ke rumah masing-masing untuk mereka tanam. Dalam beberapa hari, pohon pisang yang di tanam oleh si monyet sudah layu dan mati. Tentu saja karena pohon pisang bagian atas tak memiliki akar dan tak bias hidup. Berbeda dengan pohon pisang milik si katak, kini telah mulai bertunas dan keluar daunya.

Satu minggu kemudian, si monyet berkunjung ke tempat si katak. Dia berniat melihat tanaman pisang milik si katak, apakah mati seperti tanaman miliknya. Tapi si monyet sangat kaget ketika melihat tanaman si katak tumbuh dengan subur. Kini dia sadar bahwa dulu dia telah memilih bagian pohon yang salah, tapi sesal pun kini tiada guna. Dia pun mulai mencari siasat untuk dapat menikmati buah pisang milik si katak.

Setiap dua minggu sekali, si monyet berkunjung ke rumah si katak. Dia berdalih bertamu dan melihat hasil kerja si katak. Apakah sesubur pohon pisangnya. Padahal dia hanya berusaha melihat apakah buah pisang si katak sudah berbuah. Sehingga dia dapat memetiknya. Hal tersebut dia lakukan secara berulang dan terus menerus.

Hingga pada suatu hari, ahirnya pohon pisang milik si katak sudah masak dan siap di panen.
“Hai kawan, bagai mana kabar pohon pisang mu kali ini? Apakah sudah masak?”. Tanya si monyet.
“Wah.. tepat sekali kau dating. Pohon pisang ku sudah masak dan sudah waktunya untuk di panen hari ini. Bagai mana dengan pohon pisang mu?’. Tanya si katak.
“Sama, pohon pisang ku juga sudah masak dan sudah siap untuk di panen. Rencananya besok mau aku petik”. Kata si monyet berbohong.

“Baguslah kalau begitu. Jika aku boleh minta tolong, maukah hari ini kau memanjatkan pohon pisang ku? Karena aku tak bias memanjat”. Pinta si katak.
Mendengar permintaan dari si katak, si monyet sangat senang. Karena hari ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu selama ini. Dia dapat makan buah pisang hingga puas.
“Tentu saja katak sahabat ku. Aku ke sini memang untuk menolong mu. Kalau begitu, mari kita menuju pohon pisang milik mu”. Jawab si monyet yang licik itu.

Mereka berdua kemudian menuju pohon pisang milik si katak. Dan dengan cepat si monyet yang rakus itu memanjat pohon pisang itu. Dan di atas pohon, monyet itu mulai memetik satu persatu buah pisang. Bukan untuk di berikan pada si katak yang dari tadi menunggu di bawahnya, melainkan dia makan sendiri di atasd pohon.
“Wah.. kau memang pandai menanam pisang kawan. Pisang mu ini terasa sangat manis dan lezat”. Teriak si monyet dari atas pohon.
“Hai monyet, kenapa kau memakan pisang ku? Jatuhkan beberapa pisang untuk ku. Jangan kau makan sendiri di atas pohon..!!”. teriak si katak dari bawah.

“Hai katak kawan ku. Kau ini sangat bodoh. Kau ini katak, kau tidak makan buah. Tapi kau makan serangga. Lebih baik kau pergi saja mencari nyamuk untuk kau santap. Biar buah pisang yang lezat ini aku saja yang memakanya. Karena buah selezat ini saying sekali bila harus di bagi dengan mu. Hahahaha..”. jawab si monyet.
Mendengar jawaban monyet yang seperti itu, si katak merasa sangat marah. Dia sangat kecewa pada si monyet yang selama ini dia aggap sebagai sahabat, ternyata monyet itu sangat egois. Ahirnya si katak pun masuk ke dalam rumah dan mengambil alat untuk menebang pohon pisang itu.

“Baiklah monyet rakus, habiskan saja semuanya. Aku tak butuh lagi pisang ini, maka pohon pisang ini akan segera ku tebang dank u buang ke sungai”. Kata si katak kemudian melai menebang pohon pisang itu.
Mendengar perkataan si katak, si monyet pun mempercepat makanya. Di berfikir sangat sayang jika buah pisang yang lezat itu di buang begitu sja di sungai. Dengan sekuat tenaga si monyet mempercepat makanya. Tapi karena kekenyangan, si monyet tak sanggup lagi memakan semua buah pisang itu. Tapi karena sifatnya yang rakus, dia tetap memaksakan diri untuk terus memakanya.

Tapi sayang, sebelum dia selesai memakan semua buah pisang itu, pohon pisang sudah mulai oleng dan mulai roboh. Si monyet berusaha melompat untuk menghindar agar tak ikut jatuh dengan pohon pisang tersebut. Tapi sayang.. karena kekenyangan dan kebanyakan makan, tubuhnya menjadi berat dan sulit untuk bergerak. Ahirnya, monyet itupun terjatuh ke tanah bersama pohon pisang itu. Monet itu pingsan karena tertimpa pohon pisang. Dan si katak meninggalkanya begitu saja tanpa mau menolong monyet yang serakah dan rakus tersebut.

TAMAT

Hikmah yang dapat kita petik dari cerita fabel dongeng katak dan monyet yang rakus di atas adalah.. sifat rakus dan serakah bukanlah hal yang baik. Karena sifat tersebut akan merugikan diri sendiri di kemudian hari. Karena sifat tersebut dapat membuat diri kita suka menipu orang lain dan bersikap egois, sehingga banyak teman-teman yang akan menjauhi kita sehingga kita tak lagi memiliki teman di kala kita membutuhkan mereka. J

Story by: Muhammad Rifai

Dongeng Anak Lelaki dan Seruling Ajaib

Hay sobat dongeng terbaru, kali ini blog dongeng terbaru akan berbagi sebuah cerita klasik dari mancanegara. Bahkan kisah ini juga sudah di angkat ke filem kartun, tapi dulu waktu saya masih kecil pernah menontonya. Meski sudah agak lupa-lupa ingat, tapi akan coba dongeng terbaru ceritakan kembali pada sobat dongeng semua. Selamat membaca.. :) 



Dahulu kala, ada sebuah negeri kecil yang sangat makmur di kaki sebuah bukit. Hamelyn, itulah nama negerinya. Suasana negeri yang kaya akan kekayaan alam nan subur, membuat rakyat negeri itu hidup dalam kemakmuran dan bergelimang harta. Hingga negeri tersebut di kenal sebagai negeri terkaya di banding negeri-negeri lain yang menjadi tetangganya.

Walau negeri Hamelyn sangat kaya dan makmur, tapi ada salah satu kebiasaan buruk para penduduk negeri itu. Mereka suka sekali membuang sampah sembarangan, sehingga banyak sampah yang berserakan dan menumpuk di sembarang tempat. Akibatnya, hal tersebut menjadikan tikus-tikus berkembang biak. Semakin lama, populasi tikus semakin tak terkendali. Sehingga tikus-tikus banyak berkeliaran di rumah-rumah penduduk dengan bebas. Bahkan kabar tentang wabah tikus yang menimpa negeri Hamelyn ini sampai ke negeri-negeri tetangga.

Tentu saja hal tersebut menjadikan para penduduk negeri hamelyn yang terkenal kaya itu menjadi malu, termasuk sang raja. Berbagai cara telah di tempuh untuk mengendalikan wabah tikus itu. Mulai dari memelihara kucing, hingga memasang perangkap tikus. Tapi jumlah populasi tikus yang terlanjur meluas, membuat usaha tersebut sia-sia. Nihil tanpa hasil.

Hal tersebut membuat raja dan penduduk negeri Hamelyn hampir putus asa. Hingga pada ahirnya sang raja dan para penduduk bermusyawarah. Mereka sepakat untuk mengadakan sebuah sayembara. Siapa yang mampu mengusir tikus dari negeri mereka, maka tiap penduduk akan memberikan dua keping uang emas. Dan sang raja sendiri akan memberi satu kantong uang emas. Dan sayembara itupun mulai di sebar luaskan. Bahkan hingga ke wilayah negeri-negeri tetangga.

Banyak sekali orang-orang yang mengikuti sayembara tersebut karena tergiur dengan hadiah yang di janjikan. Mereka menggunakan berbagai cara dan bermacam-macam alat jebakan demi mengusir para tikus dari negeri Hamelyn. Tapi hasil yang di dapat tak sesuai harapan. Semua cara dan metode yang mereka gunakan gagal. Hingga hal tersebut membuat raja dan rakyat Hamelyn hampir kehilangan harapan.

Hingga pada suatu hari, datanglah seorang pemuda dengan pakaian lusuh menghadap raja. Dia berkata, bahwa dia sanggup mengusir tikus-tikus itu dari negeri Hamelyn. Sang raja dan rakyat Hamelyn memandang ragu pada pemuda miskin itu. Mana mungkin pemuda yang miskin dan lusuh itu mampu menghalau para tikus? Sedangkan para ahli pemburu saja gagal. Begitulah fikir mereka.

Tapi karena tak ada pilihan lain, ahirnya sang raja dan rakyat Hamelyn memberi kesempatan pada pemuda itu. Lalu pemuda itupun pamit untuk mulai melakukan tugasnya.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah seruling lalu meniupnya. Alunan seruling yang terdengar begitu indah hingga membuat siapapun yang mendengarnya pasti terlena. Ajaibnya, para tikus datang dari berbagai tempat dan berkumpul mengelilingi anak lelaki itu karena mendengar alunan seruling yang di tiupnya.

Ternyata seruling yang di bawa anak lelaki itu sungguh ajaib. Lalu pemuda yang masih sangat belia itu berjalan perlahan. Di ikuti para tikus yang berjalan berbaris di belakangnya. Tikus-tikus itu seakan terhipnotis oleh irama seruling yang di mainkan oleh anak lelaki itu.

Hingga sampailah anak itu di sebuah sungai yang mengalir agak deras. Sambil terus memainkan serulingnya, anak itu menceburkan dirinya ke dalam sungai. Dan anehnya para tikus itu tetap mengikutinya. Karena tak bisa berenang, ahirnya semua tikus-tikus itu hanyut terbawa arus sungai.

Setelah semua tikus hanyut, tugas anak lelaki itu selesai dan kembali menemui raja Hamelyn. Dia berniat menagih janji tentang upah yang akan di dapatnya dalam sayembara. Tapi ternyata, raja dan rakyat Hamelyn sepakat untuk mengingkari janji. Mereka tak mau membayar anak lelaki itu dengan alasan anak itu tak melakukan apa-apa. Dia hanya meniup seruling saja yang banyak orang juga yang dapat melakukanya.

Mengetahui sang raja dan rakyat Hamelyn telah mengingkari janjinya, si anak lelaki itu menjadi sangat marah. Dia sakit hati karena merasa di tipu dan semua jerih payahnya tak di anggap.

Dan ahirnya, anak lelaki itu kembali meniup seruling ajaibnya. Dan keajaiban kembali terjadi. Para anak-anak di seluruh negeri Hamelyn datang dan berkumpul mengelilingi anak itu. Lagu yang riang seakan menghipnotis anak-anak negeri Hamelyn untuk mengikuti kemana musik nan merdu itu terdengar. Dan anak lelaki itu kemudian berjalan keluar dari negeri Hamelyn di ikuti oleh para anak-anak Hamelyn di belakangnya. Tentu saja hal tersebut membuat para orang tua mereka panik ketika mengetahui anaknya tak lagi ada di kamar mereka. Tak terkecuali sang raja, karena sang pangeran juga ikut terhipnotis oleh irama merdu seruling ajaib itu.

Ahirnya, sang raja dan rakyatnya pergi mengejar anak lelaki berseruling ajaib itu. Dan mereka berhasil mengejar hingga perbatasan. Sang raja dan rakyat Hamelyn memohon agar anak lelaki itu mau mengembalikan anak-anak mereka. Mereka akan menyerahkan hadiah yang di minta anak lelaki itu, bahkan akan di tambah 3x lipat.

Tapi anak lelaki itu tak menghiraukan. Dia tetap berjalan dan di ikuti oleh anak-anak Hamelyn di belakangnya. Rasa sakit hatinya karena penghianatan raja dan rakyat Hamelyn sungguh dalam. Konon, anak itu terus berjalan hingga masuk pada sebuah goa. Dan ketika semua anak-anak telah masuk ke dalam goa, tiba-tiba goa itu hilang begitu saja tanpa bekas.

Tentu saja hal tersebut membuat seluruh rakyat Hamelyn sangat bersedih. Duka cita menyelimuti negeri yang kaya itu. Para rakyat Hamelyn sangat menyesal atas perbuatan mereka. Karena perbuatan mereka yang mengingkari janji, membuat anak-anak mereka harus menanggung akibat dari kesalahan mereka. Tapi, sesal kemudian tiada berguna. Hingga mulai hari itu seluruh rakyat Hamelyn bertekad, mereka tak akan pernah lagi mengingkari janji. Dan hal tersebut masih di pegang teguh hingga saat ini..

Nah sobat dongeng semua, dari cerita di atas ada hikmah yang dapat kita petik. Bahwa mengingkari janji bukanlah hal yang terpuji. Pasti akan ada akibat buruk di kemudian hari. Dan ketika itu telah terjadi, maka menyesal pun tiada guna.

Jangan lupa untuk berkunjung lagi ya. Nantikan dongeng-dongeng menarik lainya. Sampai jumpa pada dongeng berikutnya, bey.. ^_^

TAMAT

Story by: Muhammad Rifa'i

Dongeng Angin yang Sombong

Dahulu kala, air, api, angin, dantanah adalah sahabat karib. Mereka menjalankan tugas mereka masing-masing untuk membantu manusia sesuai ilham dari sang pencipta. 



Air dan tanah membantu manusia dalam hal bercocok tanam dan kehidupan sehari-hari. Api di gunakan manusia untuk memasak dan menghangatkan diri dari udara dingin. Dan angin membantu menyejukan panas di siang hari dan menggiring awan hujan ke tanah gersang. Para manusia sering bersyukur dalam do'a mereka, mereka berterimakasih pada tuhan telah menciptakan air, api, dan tanah yang sangat membantu bagi kehidupan mereka.

Mereka jarang menyebut angin dalam do'a mereka, karena peranan angin memang tak begitu mereka sadari karena tak berhubungan langsung dalam keseharian kebutuhan hidup mereka. Berbeda dengan tanah, air, dan api, yang sangat mereka butuhkan dalam kehidupan.

Ternyata hal tersebut membuat angin iri dan ingin menunjukan pada
manusia akan kehebatanya pada manusia. Dengan angkuhnya angin
menciptakan putaran topan dan tornado yang sangat besar. Hingga rumah-rumah penduduk porak poranda dan roboh rata dengan tanah. Melihat hal itu, api berusaha menengahi. Dia datang untuk menghadang angin. Tapi karena kencang dan dahsyatnya putaran angin, membuat api padam tak berbekas.

Melihat hal itu, angin semakin congak dan angkuh. Dengan sombongnya angin sesumbar.."Ayo, siapa lagi yang ingin menentang ku? Dari empat elemen, aku adalah yang terkuat. Mungkin manusia dapat membuat api, dapat menggali sumber air, dan dapat menjajah tanah dengan cangkul-cangkul mereka. Tapi mereka tak bisa memadamkan aku sebagaimana api, tak bisa menguapkan aku seperti air, dan tak mampu menyentuh ku ibarat tanah. Lihatlah kekuatan ku hai manusia. Dengan ini kalian ku beri pelajaran agar mengingat aku. Hahaha.. ". Kata sang angin.

Mendengar kata-kata angin yang sombong dan lantang, air mencoba untuk mengingatkan. "Hai sahabat ku, mengapa kau berlaku begitu? Kita di ciptakan sama-sama untuk membantu manusia. Jangan kau sombongkan kekuatan mu, karena di atas langit masih ada langit. Dan aku yakin, masih ada yang lebih kuat dari mu". Kata air. Tapi mendengar hal itu, angin malah menjawab dengan ketus. Kesombongan angin akan kekuatanya membuatnya lupa diri. Angin menjawab.. "Hai air.. Apa kau juga ingin membela manusia? Maka kau akan bernasib sama seperti api". Kata angin kemudian menggulung air dengan pusaranya. Hingga air tercecer dan hilang tersapu angin.

Tingkah sang angin semakin menjadi. Dia memporak porandakan tiap apa yang di laluinya. Menghancurkan, merobohkan, dan menerbangkan tiap apa yang di laluinya. Tentu saja hal tersebut membuat para manusia panik, dan lari ke segala penjuru mencari tempat berlindung. "Hahaha.. Rasakan kemarahan ku wahai manusia. Tak akan ada lagi yang mampu melindungi kalian dari kemarahan ku. Jika ada yang mampu mengalahkan aku, maka aku akan berhenti. Tapi kalian boleh bermimpi, karena pada kenyataanya.. Tak ada yang tak bisa aku terbangkan. Hahaha.. ". Angin yang angkuh itu tertawa menantang.

Dan ahirnya, sang tanah pun mendengar ke angkuhan sang angin. Lalu tanah pun angkat bicara.. "Wahai angin sahabat ku. Sifat iri telah membuat mu berlaku bodoh. Maka kini aku yang akan menghadapi mu. Aku akan melindungi manusia dari amukan mu. Jika kau mampu, silahkan kau terbangkan aku". Kata tanah.
"Wahai para manusia, masuklah kalian ke dalam goa di bawah perut gunung-gunung ku. Maka kalian akan aman di sana". Kata tanah lagi. Lalu manusia pun berbondong-bondong masuk ke dalam goa-goa yang di
miliki bumi. Sedangkan sang angin kini membuat angin tornado yang semakin besar. Dia menerjang gunung, berharap mampu menerbangkanya. Tapi semua di luar dugaan, ternyata gunung tak bergeming. Dia tetap
berdiri kokoh pada tempatnya. Angin merasa penasaran, diapun memperbesar putaran tornadonya. Dia kembali menerjang gunung, dan lagi-lagi hasilnya sama. Gunung tetap kokoh tak bergeming. Ahirnya, angin yang sombong itu kelelahan. Dan mengaku kalah pada sang tanah. Dan anginpun menghentikan amukanya, dan dia berjanji akan memperbaiki kesalahanya.



Nah, para pembaca dongeng terbaru yang budiman. Kisah ini saya tulis karena ada permintaan dari pembaca. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Bahwa kesombongan bukanlah hal yang baik, hanya akan menimbulkan kerugian. Baik bagi orang lain dan diri sendiri. Berusahalah saling menghormati antar sesama. Agar kedamaian dan keserasian dapat tercipta. Nah.. Sekian dulu kisah kali ini. Tunggu kisah dongeng anak terbaru berikutnya ya.



TAMAT



Story by: Muhammad Rifai

Jumat, 17 Maret 2017

Cerita Anak dan Ayah yang Bijaksana

Ada seorang ayah dan anaknya yang tengah melakukan sebuah perjalanan melewati sebuah gunung. Tebing yang terjal dan lembah yang cukup curam mebuat mereka harus lebih berhati-hati dalam meniti tiap langkah kaki. Anak yang bersama ayahnya itu berumur masih belia. Ayahnya mengajak anaknya untuk ikut melakukan perjalanan bersamanya, untuk mengajari anak tersebut segala hal tentang dunia dan isinya. Agar anak tersebut mendapat banyak pengalaman dan ilmu yang bermanfa’at.


Perjalanan yang cukup jauh membuat ayah dan anak itu cukup kelelahan. Hingga tanpa sengaja sang anak terpeleset dan hampir jatuh. Dengan spontan anak itu berteriak karena kaget. “ Waaaaahhhhh...”. tapi sang ayah dengan cekatan merenggut tangan anaknya dan membantunya untuk kembali berdiri. Anak itu tertegun, ada sesuatu yang di fikirkanya. Dia ingin mencoba lagi. “Haaaaaaiiiiiiii....”. teriak anak itu dari atas gunung. Lalu dari kejauhan terdengar suara yang sama membalas teriakanya.” Haaaaaaiiiii...”. anak itu semakin penasaran.



“Siaaapaaaaa kaaaammmuuuuuu...?”. teriaknya lagi. Dan dari tempat yang jauh pun terdengar hal yang sama pula “ Siaaapaaaaa kaaammmuuuuu...? “. Anak itu semakin tak mengerti, dia semakin di buat penasaran oleh asal dari suara itu. “ Aku bertanya pada mu, siapa nama mu?”. Teriak anak itu lagi. Dan lagi-lagi dia mendapat jawaban yang serupa. Anak itu di buat jengkel oleh suara yang tak jelas itu.



“ Kamu tuli ya? Kamu gila?”. Teriak anak itu lagi. Tapi jawaban yang dia terima tetap sama dengan apa yang di ucapkanya. Anak itu semakin jengkel. “Kamu menghina ku ya? Ku adukan sama ayah ku kalau kamu berani..”. teriaknya lagi. Dan lagi-lagi dia mendapat jawaban yang serupa. Melihat tingkah polah anaknya, sang ayah hanya bisa tersenyum. Kemudian dia memanggil anaknya itu untuk mendekat. “Nak.. seharusnya kamu teriak begini.. Kamu tampan.. kamu baik.. kamu anak yang manis..”. Kata ayahnya.



Sang anak pun menuruti kata-kata ayahnya. Dan anehnya, dia mendengar suara di seberang sana juga memuji-muji dia. Karena rasa penasaran, sang anak pun lalu bertanya pada ayahnya. “ Sebenarnya dia itu siapa yah? Kenapa dia meniru semua yang aku katakan?’. Tanya sang anak. Sang ayah pun lalu menjelaskan.. “ Itu adalah gema suara nak.. gema dari suara mu yang di pantulkan oleh tebing dan lembah di gunung ini. Dia membalas tiap apa yang kamu katakan. Jika kamu berkata baik, maka dia juga akan menjawab baik. Jika kamu berkata buruk, maka dia pun akan menjawab hal yang buruk pula. Karena dia tercipta dari apa yang kamu katakan sendiri”.



“Begitupun hidup.. dalam kehidupan, kamu akan menuai apa yang kamu tanam. Jika kamu berbuat baik pada sesama, maka kamu akan mendapat balasan yang baik pula. Jika kamu berbuat jahat pada sesama, maka kamu pun akan mendapat balasan yang serupa juga”. Jelas sang ayah. Dan anak itu pun mulai mengerti makna dari sebuah kehidupan. Karena sebenarnya, kehidupan adalah gambaran dari imbal balik apa yang kita lakukan.



Story by: Muhammad Rifai