Jumat, 17 Maret 2017

Dongeng Ayam Jantan yang Sombong

Kesombongan pasti selalu berahir celaka. Karena seorang mahluk itu tak berhak sombong. Karena sombong hanya pantas di sandang oleh Tuhan dzat pencipta seluruh alam. Nah, pada kesempatan kali ini, blog dongeng terbaru akan berbagi kisah hikmah tentang buruknya sifat sombong dan akibat yang di sebabkan oeh kesombongan. Semoga adik-adik dan kaka’-kaka’ semua dapat memetik pesan moral yang coba dongeng terbaru sampaikan ewat kisah dongeng ini. Selamat membaca..  :)




 
Di sebuah peternakan, tinggalah dua ekor ayam jantan. Mereka menjadi pejantan untuk semua ayam betina yang ada di peternakan itu. Tapi sayangnya, ayam jantan yang satunya selalu bersikap serakah. Dia ingin menjadi satu-satunya yang menguasai daerah itu. Sedangkan ayam jantan yang ke dua bersikap lebih sabar. Walaupun dia sering di hina, di caci, dan di perlakukan dengan semena-mena oleh ayam jantan yang satunya, dia tak mudah terpancing.

Hingga pada suatu hari, sebuah kejadian tak bisa di elakan. Ketika sedang asik mencari makan di pekarangan peternakan, tiba-tiba ayam jantan ke dua di terjang oeh ayam jantan serakah yang pertama. Untuk membela diri, ayam jantan ke dua pun mencoba malakukan perlawanan sekuat tenaga. Tapi karena sifatnya yang cinta damai dan tak suka berkelahi, ahirnya dia pun lari untuk mengalah dan bersembunyi di balik tumpukan jerami.

Melihat awanya lari tunggang anggang, ayam jantan yang sombong tersebut merasa sangat puas. Apa agi mereka di lihat oleh para ayam betina yang dari tadi mencari makan di sekitar mereka. Hal tersebut membuat ayam jantan yang sombong itu menjadi besar kepala dan semakin membanggakan dirinya. “Tak ada yang bisa mengalahkan aku di sini. Aku adalah ayam terkuat yang patut menguasai dan menjadi raja di sini..cukkurukuuukkk..” katanya sambil berkokok.

Tak puas hanya dengan hal itu, dia berniat mengumumkan kemenanganya agar di ketahui oeh seuruh penghuni peternakan. Dengan sombongnya dia mengepakan sayap dan melompat ke atap. Dari atap peternakan, dia berteriak-teriak menyombongkan diri dan menantang siapa saja yang berani melawanya. Sifat sombong telah membuat dia lupa, bahwa di atas langit masih ada langit. Ternyata secara tak sengaja, ada seekor elang yang sedang mencari mangsa lewat di atas peternakan itu.

Melihat si ayam jago yang berteriak-teriak sombong di atas atap,  memberi kesempatan untuk si elang menyambar dan membawa ayam jago itu ke sarangnya menjadi santapan anak-anaknya yang tengah lapar. Berahir sudah riwayat ayam jago yang sombong itu. Sedangkan ayam jago yang satunya kini menjadi ayam jago tunggal yang menguasai daerah peternakan. Sifatnya yang suka mengalah dan cinta damai, ternyata mampu menyelamatkan dia dari bahaya. Dan mendapat ke dudukan yang sebelumya tak pernah dia bayangkan. Dan itu adalah balasan bagi orang-orang yang mau bersabar.

Nah, para adik-adik dan kaka’-kaka’ pembaca sekalian, semoga ada hikmah yang dapat kita petik dari kisah dongeng sederhana ini. Kita harus belajar untuk menjadi orang yang baik, dan ebih baik dari pada hari kemarin. Karena kebaikan pasti akan mendapat balasan yang baik pula. Meski sebelum itu kita harus lebih bersabar pada ujian yang datang. :)


Story by: Muhammad Rifa’i

Dongeng Burung Gagak Yang Cerdik dan Kendi Air

Pada suatu musim kemarau yang cukup panjang, para hewan sangat kesulitan untuk mencari air. Salah satunya adalah seekor burung hahak. Burung hahak ini selalu di jauhi teman-temanya. Selain karena warna bulunya yang aneh dan jelek, burung gagak ini juga sering di ejek sebagi burung yang bodoh. Sebenarnya, burung gagak tak merasa sedih dan dendam akan hal itu. Dia tetap menerima semua ejekan teman-temanya dengan hati yang ikhlas.


Musim  kemarau panjang semakin menjadi, hingga kekeringan terjadi di mana-mana. Banyak sumber air yang telah mengering. Hingga membuat para hewan menjadi putus asa. Pada suatu hari, para hewan memutuskan untuk pindah mencari tempat baru yang memiliki sumber air yang masih mengalir. Mereka sengaja tidak memberi tahu burung gagak karena mereka ingin membiarkan burung gagak yang mereka benci mati kehausan. Ahirnya, pada suatu malam para hewan berbondong-nondong pergi dengan diam-diam ketika si burung gagak tengah asik tidur di sarangnya.


Pada ke esokan harinya, si burung gagak merasa bingung. Karena hanya tinggal dia sendiri di tempat itu. Hewan-hewan yang lain telah tak ada di sana, dan dia tak tahu kemana mereka pergi. Ahirnya dia memutuskan untuk terbang tak tentu arah untuk mencari kemana teman-temanya pergi. Matahari yang panas menyengat dan rasa haus yang sangat menyiksa, membuat burung gagak itu kelelahan dan memutuskan turun untuk berteduh di bawah sebuah pohon. Rasa haus yang di rasakan semakin menjadi, hingga mendorongnya untuk berusaha mencari air. Setelah lama dia berputar-putar mengitari tempat itu, dia tak menemukan ada satu pun sumber air yang ada. Ketika dia hampir menyerah, burung gagak itu menemukan sebuah kendi yang berisi air di dalamnya.


Tentu saja burung gagak merasa sangat senang sekali. Tapi masalah kembali muncul. Leher kendi yang panjang dan sempit membuatnya tak bisa meminum air di dalam kendi itu. Sebisa mungkin dia berusaha, tetap saja dia tak bisa menggapainya. Ingin di tumpahkanya, tapi sebagian badan kendi itu tertanam di dalam tanah. Rasa putus asa hampir saja menghampiri dirinya. “ Mungkin aku memang sebodoh yang di katakan teman-teman ku”. Keluh burung gagak itu. Tapi Tuhan selalu memberi jalan kepada hambanya yang bersabar.


Ketika burung gagak itu hampir putus asa karena merasa hampir mati karena ke hausan, dia melihat kerikil di samping kendi itu. Lalu tiba-tiba muncul sebuah ide di benaknya. Dia kemudian mengumpulkan banyak kerikil yang ada di sekitar tempat itu. Kemudia dia memasukan satu persatu ke dalam kendi yang berisi air tersebut. Lambat laun, kendi yang mulai terisi penuh dengan kerikil memaksa air yang ada di dalamnya untuk naik ke atas dan keluar dari kendi. Segera saja si gagak meminum air itu sepuasnya untuk menghilangkan dahaganya. Setelah dia rasa cukup, burung gagak kemudian meneruskan perjalananya untuk mencari teman-temanya.


Usahanya tak sia-sia, dia menemukan teman-temanya yang telah pindah dan menemukan sebuah mata iar baru. Tentuu saja mereka sangat terkejut dengan kedatangan burung gagak itu. Bagaimana mungkin burung gagak yang bodoh itu mampu bertahan bahkan dapat menemukan mereka. Karena rasa penasaran, mereka bertanya pada burung gagak itu. Lalu si burung gagak mulai bercerita tentang semua hal yang di alaminya. Hal tersebut membuat para teman-teman hewanya menjadi sangat kagum. Mereka tak mengira burung gagak yang selama ini mereka anggap sangat bodok ternyata secerdas itu. Mulai saat itu, mereka tak mengejek burung gagak itu lahi sebagai burung yang bodoh. Bahkan mereka sangat menghormati burung gagak itu dan meminta ma’af atas semua kesalahan mereka. Dan burung gagak pun mema’afkan mereka dengan senang hati.


Nah kaka’ semua, adapun hikmah yang dapat kita petik dari kisah dongeng di atas adalah.. jangan menilai orang dari penampilan mereka. Meskipun mereka terlihat bodoh, belum tentu dia sebodoh yang kita kira. Ilmu sedikit akan lebih baik jika kita dapat mengamalkan dan menggunakanya, dari pada memiliki ilmu yang banyak tapi tak dapat menggunakanya dengan semestinya. Hanya untuk pamer dan sombong kepada sesama. Sampai jumpa pada kisah selanjutnya ka’. Jangan lupa buat balik lagi ea..



Di Tulis Oleh: muhammad Rifai

Cerita Anak Laki-laki dan Segenggam Kacang

Pada suatu hari di sebuah keluarga kecil, ada seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Sebagaimana adik kakak pada umumnya, mereka kadang tak akur dan tak mau mengalah satu sama lain. Mereka selalu ingin mendapatkan keinginanya lebih dari yang satunya. Ketika yang satu memiliki sesuatu, maka yang satu juga ingin memilikinya juga. Sifat iri dan serakah di miliki oleh mereka berdua.

Sang ibu tahu akan sifat buruk kedua anaknya. Tapi karena mereka masih kecil, sang ibu tak ingin memarahi mereka. Sang ibu mencari ide yang dapat menyampaikan pesan moral tentang jeleknya sifat egois dan tamak. Akhrnya ibu yang baik hati itu menemukan sebuah ide yang cukup brilian. Pada suatu hari, ibu itu pergi ke pasar. Dia membeli setoples kacang. Karena dia tahu, kedua anaknya sangat menyukai kacang.
Setelah sampai di rumah, dia memangggil kedua anaknya dan menunjukan setoples kacang yang dia bawa. Melihat kacang kesukaan mereka, kedua anak itu merasa senang sekali. Lalu muncul nita tamak dan serakahdi hati mereka untuk dapat memiliki kacang itu sendiri. Tapi sang ibu tahu akan hal itu. Oleh karena itu, sang ibu kemudian berkata. “ Ambilah kacang ini secara bergantian, dan ingat jangan rebutan”. Kata sang ibu.

Lalu sang ibu menyuruh anak pertama yang lebih tua untuk mengambil. Anak itu pun memasukan tanganya ke dalam toples kacang tadi. Karena ingin mendapatkan bagian yang banyak, dia menggenggam kacang itu sebanyak-banyaknya semampu yang dapat dia genggam. Tapi sial, ketika ingin mengeluarkan tanganya, tanganya tersangkut. Lubang toples yang kecil tak muat untuk genggaman tanganya yang cukup besar.
Anak itu tetap tak mau menyerah. Dia tetap memaksakan untuk menarik tanganya keluar. Tapi sial, karena dia menarik terlalu kuat, toples kacang itu ikut terpental dan pecah. Hingga semua kacang yang ada berserakan di lantai dan tak bisa lagi di makan karena kotor. Kedua anak itu pun memasang raut wajah kecewa. Dan menyalahkan satu sama lain. Melihat anaknya berseteru, sang ibu kemudian menghampiri mereka.

“Itulah akibatnya jika kalian bersifat tamak. Kalian tak akan mendapat apa-apa kecuali kekecewaan dan penyesalan. Coba tadi kalian mau saling mengalah dan berbagi serta tidak bersifat serakah, tentu kita semua masih dapat memakan kacang itu”. Kata sang ibu. Mendengar kata-kata sang ibu tersebut, kedua anak itu terdiam dan mulai menyadari kesalahan mereka selama ini. 

Hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini adalah, keserakahan selalu menghasilkan perseteruan satu sama lain. Dan keserakahan selalu mendatangkan penyesalan di kemudian hari.

Di tulis oleh: Muhammad Rifai

CERITA si KANCIL menolong KERBAU

Setelah pada cerita si kancil sebelumnya tentang perlombaan lari antara si kancil dan siput, kini sikancil sadar dan tak lagi menyombongkan dirinya. Si kancil kini kembali menjadi kancil yang periang, cerdik, dan juga baik hati. Pada suatu hari yang panas, si kancil menyusuri hutan untuk jalan-jalan. Karena merasa haus, si kancil berjalan menuju sungai untu minum.
Setelah sampai, si kancilpun minum dengan lahapnya. Dia meminum sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa dahaganya. Setelah di rasa puas, si kancilpun kemudian berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Suasana yang sejuk dan angin sepoi-sepoi yang berhembus, membuat mata si kancil menjadi terasa berat dan mengantuk.
Tapi ketika si kancil tengah asik menuju alam mimpi, lamat-lamat dia mendengar suara merintih dan minta tolong. Si kancilpun segera bangun dan mencari dari arah mana suara itu berasal. Betapa kagetnya si kancil, ketika dia melihat dari balik semak-semak. Dia melihat pak kerbau yang tengah mengerang kesakitan karena kakinya di gigit oleh seekor buaya. Si kancilpun mendekat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Hai pak kerbau.. apa kabarmu hari ini? Kau dan pak buaya sedang main apa? Bolehkah aku ikut?”. Kata si kancil berlagak bodoh.
“Aduh kancil.. kabar ku hari ini sangat sial..”. kata pak kerbau.
“Tapi kabar ku hari ini sangat baik dan sangat beruntung..hahaha”. kata buaya menyahut.
“Lho.. kok bisa begitu? Memangnya kalian ini kenapa? Ada apa sebenarnya?”. Tanya si kancil.
“Begini cil..”. kata pak kerbau. “Tadi.. waktu aku sedang minum, aku mendengar ada suara meminta tolong. Setelah aku cari, ternyata aku melihat buaya ini sedang mengerang kesakitan karena tertimpa oleh pohon. Dia memelas dan meminta tolong pada ku, agar aku mau menolongnya”. Kata pak kerbau.
“Lha terus masalahnya bagaimana kok bisa jadi begini?”. Tanya si kancil lagi.
“Nah.. biar aku yang lanjutkan cil..”. kata buaya. “Tadi dia memang menolong ku. Melepaskan aku dari tindihan pohon besar yang menimpa tubuh ku sehingga aku tak bisa bergerak. Tapi tadi aku juga sudah bertanya padanya, apakah diamau menolong ku dengan tulus? Lalu dia jawab, iya. Nah, janji adalah hutang bukan?”. Tanya si buaya.
“Iya.. memang benar demikian, lalu..?” Tanya si kancil lagi.
“Aku terjebak di bawah pohon sudah tiga hari lamanya. Kehujanan, kepanasan, dan juga kelaparan. Waktu pak kerbau menolong ku, aku sangat lapar cil. Jadi ku tagih juga janjinya yang katanya mau  menolongku dengan tulus, agar dia juga bersedia ku santap untuk menolong ku menghilangkan rasa lapar ku. Jadi, aku tak salah kan cil? Hahaha..”. kata si buaya.
“Apakah benar demikian pak kerbau cerita yang sebenarnya?”. Tanya si kancil memastikan.
“Memang benar cil. Tapi aku hanya bermaksut menolongnya dari tindihan pohon tadi agar dia bisa bebas. Tak ku sangka ternyata dia juga mau memakan aku untuk menolong menghilangkan rasa laparnya. Nasib ku memang benar-benar malang cil..”. kata pak kerbau pasrah dengan sedihnya.
“Tunggu-tunggu.. kalau memang benar begitu ceritanya, berarti pak buaya benar dan pak kerbau yang bersalah. Jadi pak kerbau memang harus bersedia di makan oleh pak buaya..”. mendengar perkataan si kancil ini, buaya menjadi sangat senang dan si kerbau menjadi sangat bersedih. Dia hanya bisa merintih dalam kepasrahanya.
“Tapi untuk lebih jelasnya, bagaimana kalau kita lakukan reka ulang adegan yang sebenarnya…?”. Kata si kancil lagi.
“Reka ulang adegan? Maksudnya apa cil?”. Tanya pak buaya.
“Maksudnya, kita akan melakukan sandiwara tentang kejadian sebelum hal ini terjadi. Agar semua dapat kita simpulkan dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah”. Kata si kancil.
“Buat apa cil? Kan tadi sudah kau bilang bahwa aku yang benar.”. kata buaya sedikit protes.
“Memang pak buaya.. tapi masalahnya, pak kerbau merasa belum jelas dan dia merasa dirinya juga benar. Nah, agar dia juga sama-sama mengerti bahwa dia yang salah, maka kita harus melakukan reka adegan ini. Tentunya pak buaya yang sangat cerdas tak mau jika di bilang memakan kerbau yang tak bersalah bukan?”. Tanya si kancil.
Mendengar dirinya di puji, si buaya menjadi besar kepala.. “Wah.. tentu saja tidak cil. Kau memang benar. Buaya cerdas seperti ku tak mungkin mau jika di sebut penipu. Hahaha.. baiklah, mari kita lakukan reka ulang adeganya, aku yakin bahwa walau di ulang berapa kalipun.. tetap aku yang benar”. Kata buaya dengan yakinya.
Ahirnya, buaya melepas gigitanya dari kaki pak kerbau. Dan merekapun melakukan reka adegan. Si buaya kembali ke tempat asal dia tertimpa batang pohon. Dan pak kerbau kembali mendorong pohon menimpa pak buaya dengan ke dua tanduknya. Setelah di rasa si buaya tak sanggup lagi bergerak dan benar-benar terjebak, si kancil mengajak pak kerbau segera lari meninggalkan tempat itu.
“Rasakan itu buaya jahat..!! ahirnya kamu berhasil juga aku tipu. Kamu memang tak tahu terimakasih. Sudah di tolong malah tak mau membalas budi. Sekarang rasakan sendiri akibat dari perbuatan jahat mu. Kau akan terjebak di situ tanpa ada stupun hewan yang mau menolong mu. Hahaha..”. kata si kancil sambil berlari meninggalkan tempat itu. Sementara si buaya yang merasa di tipu oleh si kancil, sangat sakit hati dan menyimpan dendam. “Suatu hari nanti, aku pasti akan membalas mu kancil..!!”. teriak buaya. Dan mulai saat itulah di mulai perseteruan antara buaya dan kancil. Pada cerita dan kisah yang lain..
THE END
Story by: Muhammad Rifa’i

Cerita SINGA dan ALAM LIAR

Pada cerita kali ini, kita akan belajar tentang bagaimana kita menjalani hidup. Bahwa terkadang kebiasaan yang kita lakukan, akan membentuk karakter kita di masa depan. Baik dan tidaknya kita, tergantung dari kebiasaan, pergaulan, pengaruh lingkungan, dan juga bimbingan dari banyak orang. Maka blog dongeng anak ini, akan menyajikan cerita tentang singa yang kembali ke alam liar. Yang seharusnya menjadi rumah dari mana dia berasal. Mari kita mulai bercerita.. 



Al-kisah ada seekor anak singa yang terlantar. Induknya mati di tangan pemburu, hingga dia hidup sebatang kara dan kesulitan dalam menghadapi kerasnya alam liar. Kelaparan, itulah yang dia alami. Karena dengan umur yang masih kecil, dia tak mungkin untuk berburu. Atau lebih tepatnya belum mampu.

Hingga pada suatu hari dua orang penjelajah menemukan anak singa itu. Tubuhnya kurus, tak berdaya, dan memperihatinkan. Lalu ke dua orang itu membawa anak singa tadi ke pengawas hutan, dan anak singa itu di rawat di kebun binatang untuk menampungnya.

Kini, anak singa itu tak perlu lagi hawatir. Hidupnya kini terjamin. Makanan berlimpah datang tiap hari tanpa harus berburu. Perawatan rutin setiap minggu. Dan kandang yang selalu bersih tiap hari tanpa harus repot-repot merapikan. Intinya, kini dia hidup mewah.

Waktu terus berlalu dan hari demi hari berganti. Tak terasa tiga tahun sudah anak singa itu hidup enak di kebun binatang. Kini dia sudah besar. Tubuhnya gagah dan sangat kekar. Tapi.. baik bertubuh besar, gagah, dan kekar, itu hanya wujut fisik. Sedangkan insting dan pemikiranya tetaplah singa yang manja.

Insting pemburu sebagai hewan buas telah hilang. Terlalu lama hidup di kebun binatang yang semua serba di sediakan tanpa harus susah mencari, membuat karakternya menjadi hewan yang malas. Pekerjaanya hanya tidur dan tidur setiap hari. Karena dia berfikir, dia akan di tempat itu selamanya.

Tapi takdir bukan di tangan kita, Tuhan memiliki kuasa atas segalanya. Hingga pada suatu hari kebun binatang itu mengalami kebangkrutan. Hingga semua hewan yang ada di tempat itu harus di kosongkan karena tak ada lagi biaya untuk merawat mereka. Perdebatan terjadi di antara para manusia. Dua kubu yang memiliki perbedaan pendapat dalam mencari solusi yang terbaik.

Satu kubu menyatakan para hewan harus di pindah ke kebun binatang lain. Sedang kubu yang berlawanan yang mengatas namakan penyayang binatang dan alam menuntut agar mereka di lepas ke alam liar. Mereka adalah binatang liar. Tempat yang luas dan alam liar adalah rumah mereka yang sesungguhnya.

Ahirnya, keputusan di ambil. Para hewan akan di lepas ke alam liar, termasuk si singa. Para hewan seperti rusa, jerapah, buaya, kambing hutan, beruang, dan hewan-hewan lain mudah beradaptasi dengan rumah barunya. Karena kebanyakan dari mereka tak harus berburu untuk mendapatkan makanan.

Tapi singa kini kebingungan. Kehidupanya berubah 180 derajat. Kini, hidupnya tak lagi semudah dulu. Dia kehujanan di kala hujan, dan kepanasan di kala terik menyengat bumi. Terutama, dia tak bisa membohongi perutnya yang mulai lapar. Seperti kebiasaanya, dia mulai diam menunggu di bawah pohon. Berharap akan ada makanan datang seperti biasanya.

Tapi sudah hampir dua hari dia menunggu, makanan tak kunjung datang. Sedangkan perutnya sudah mulai sangat lapar. Dia mulai mengaum, tapi memanggil siapa? Mau minta tolong pada siapa? Kini dia hidup sendiri. Jika dia tak cepat sadar dan mulai belajar beradaptasi dengan keadaan, maka besar kemungkinan dia akan mati. Kini, semua keputusan ada pada si singa. Mau merubah kehidupan yang suka bermalas-malasan dan mulai berusaha? Atau tetap berpangku tangan menunggu makanan datang di antar ibarat seorang raja? Kini, si raja hutan itu kembali ke masalalu. Dari hidup sendiri dan terlantar, kembali menjadi sendirian seperti masa kecilnya. Cuma bedanya, kini dia memiliki pilihan dan kemampuan untuk berusaha.


Hikmah dari kisah ini lebih mengarah untuk para orang tua. Terkadang kasih sayang yang berlebihan membuat orang tua terlalu memanjakan anaknya. Meski mereka merasa apa yang mereka lakukan benar dan demi kebaikan si anak, tapi akibat di belakang hari bisa jadi sebaliknya.

Kebiasaan seorang anak dari kecil, dapat membentuk karakter mereka ketika dewasa. Jika mereka tak di ajari untuk hidup mandiri dan belajar berusaha, maka hingga mereka dewasa mereka akan lebih senang berpangku tangan. Lebih memilih mengharapkan bantuan orang lain, dari pada mencoba berusaha dengan kemampuan mereka sendiri. Maka, semoga kisah sederhana ini dapat menjadi masukan positiv untuk orang tua dalam mendidik anak. Agar anak dapat menjadi anak yang berguna bagi agama, bangsa, dan membuat orang tua bangga. :)

TAMAT


Story by: Muhammad Rifai

Banta Seudang

Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan. Suatu ketika, Banta Seudang pergi merantau untuk mencari obat mata untuk ayahnya dengan harapaan dapat kembali menjadi raja. Berhasilkah Banta Seudang menemukan obat mata untuk ayahnya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Banta Seudang berikut ini.



Alkisah, di Negeri Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, hiduplah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang permaisuri yang sedang hamil tua. Suatu ketika, sang Raja pergi berburu binatang ke hutan. Ketika itulah permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan di istana, dan diberinya nama Banta Seudang. Namun, malang nasib bagi sang Raja, karena ia tidak bisa melihat wajah tampan putranya. Kedua matanya buta terkena ranting kayu saat berburu di hutan. Sejak saat itu, ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugas kerajaan lagi. Oleh karena Banta Seudang masih bayi, maka tahta kerajaan ia serahkan untuk sementara kepada adik kandungnya. Namun, sang Adik yang baru diangkat menjadi raja itu sangat licik dan serakah. Ia membuatkan sebuah rumah agak jauh dari istana untuk tempat tinggal kakaknya bersama istri dan Banta Seudang. Raja baru itu setiap hari mengirim bantuan makanan untuk kebutuhan sehari-hari sang Kakak bersama keluarganya.

Waktu terus berjalan. Banta Seudang tumbuh menjadi remaja yang tampan. Ia pun mulai bertanya-tanya kepada ibunya tentang siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, padahal ayahnya buta.

“Maaf, Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Ibu,” kata Banta.
“Ada apa, Anakku? Katakanlah!” seru sang Ibu.
“Dari mana kita mendapat makanan setiap hari, padahal Ayah tidak pernah bekerja?” tanya Banta ingin tahu.
“Ketahuilah, Anakku! Kebutuhan hidup sehari-hari kita dibantu oleh Pakcikmu yang kini menjadi Raja,” jawab ibunya.
“Pakcik baik hati sekali ya Bu,” kata Banta.
“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu sambil tersenyum seraya membelai-belai rambut si Banta.

Pada suatu hari, sang Ibu bersama Banta Seudang pergi menghadap sang Raja. Di hadapan Raja, sang Ibu memohon kepada Raja untuk membantu Banta Seudang agar bisa bersekolah. Namun, permohonan sang Ibu ditolak oleh sang Raja.

“Dasar kalian tidak tahu diri! Dikasih sejengkal minta sedepa pula. Bukankah semua kebutuhan hidup sehari-hari kalian telah aku penuhi!” bentak sang Raja.

Alangkah sedihnya hati sang Ibu mendengar bentakan itu. Ia pun mengajak Banta kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Banta Seudang berusaha menenangkan hati ibunya.

“Sudahlah, Bu! Ibu tidak usah bersedih begitu. Kita seharusnya bersyukur karena Pakcik sudah banyak membantu kita,” bujuk si Banta.
“Banta! Kamu memang Anakku yang baik. Tapi, kamu harus sekolah seperti teman-teman sebayamu,” kata sang Ibu.

Mendengar perkataan itu, si Banta tiba-tiba berpikir bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar. Maka timbullah pikirannya untuk mencari obat mata untuk ayahnya. Jika kelak ayahnya bisa melihat lagi, tentu sang Ayah bisa mencari nafkah sendiri dan dapat membantu biaya sekolahnya.

Pada suatu hari, Banta Seudang menyampaikan niatnya kepada ibunya.
“Bu, Banta ingin pergi mencari obat mata untuk Ayah agar dapat kembali bekerja seperti biasanya dan Banta pun bisa sekolah,” ungkap Banta Seudang.

“Baiklah, Anakku! Ibu merestuimu. Pergilah mencari obat mata untuk Ayahmu. Ibu doakan semoga kamu berhasil,” kata sang Ibu.
Sang Ibu pun menyampaikan maksud Banta tersebut kepada ayah Banta. Dengan senang hati, sang Ayah pun merestui perjalanan Banta mencari obat.
Keesokan harinya, dengan bekal seperlunya, berangkatlah Banta Seudang untuk mencari obat. Ia berjalan seorang diri menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, menaiki gunung, dan menuruni lembah-lembah. Setelah berbulan-bulan berjalan, ia pun tiba di sebuah hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar. Di tengah hutan itu, ia menemukan sebuah balai. Ia pun memutuskan untuk melepas lelah di balai itu. Ketika sedang merebahkan tubuhnya, tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.

‘Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati.
Ternyata benar. Menjelang waktu Ashar, tiba-tiba beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu. Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah. Dengan hati bertanya-tanya, Banta hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut. Beberapa saat kemudian, Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya. Rupanya, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah.

Setelah menyaksikan peristiwa itu, Banta kemudian berpikir akan mendekati imamnya ketika para Wali tersebut melaksanakan shalat.
“Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang,” pikirnya.

Banta Seudang pun tinggal di balai itu menunggu kedatangan para Wali. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat. Banta Seudang pun segera duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya.

“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.
‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.

“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.

“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.
“Engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.
“Saya Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,” jawab Banta.
‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.
“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.

“Engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja. Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.

Betapa senang hati Banta Seudang mendapat petunjuk dari Wali itu. Tidak berapa lama ia menunggu, tiba-tiba datanglah seekor gajah putih ke balai itu. Setelah mendapat isyarat dari gajah itu, Banta pun segera naik ke atas punggung gajah. Sang gajah berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke sebuah lembah di mana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Di pinggir sungai terdapat sebuah pohon besar yang dihuni oleh Jin Pari yang memiliki baju terbang. Melihat kedatangan Banta bersama gajah putih itu, Jin Pari pun segera menyambut mereka.

“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.

“Benar, Jin Pari!” jawab Banta.
“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.

“Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?” tanya Banta bingung.
Jin Pari pun bercerita kepada Banta Seudang bahwa setiap jumat ada tujuh putri raja dari negeri lain datang ke sungai itu untuk mandi-mandi. Untuk menjaga sungai itu, raja negeri lain menugaskan seorang perempuan tua bernama Mak Toyo. Ia tinggal di sekitar sungai itu. Setiap kali ketujuh putri raja selesai mandi di sungai itu, Mak Toyo turun ke sungai untuk menepuk air tiga kali. Setelah itu bunga ajaib ‘bangkawali’ akan muncul di atas permukaan air. Oleh karena itu, Banta harus meminta bantuan Mak Toyo untuk mendapatkan bunga ajaib itu.

Pada suatu malam, Jin Pari bersama Banta Seudang mendatangi tempat tinggal Mak Toyo. Perempuan penjaga sungai itu pun bersedia membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu, tapi dengan satu syarat.

“Cucuku, jika ingin mendapatkan bunga bangkawali itu, kamu harus mengambilnya sendiri dengan berenang ke tengah sungai itu,” ujar Mak Toyo kepada Banta.

Setelah mendapat penjelasan dari Mak Toyo, Jin Pari dan Banta pun mohon diri. Untuk melaksanakan syarat Mak Toyo, Banta harus menunggu hingga hari jumat. Maka ketika hari jumat tiba, ketujuh putri raja yang cantik-cantik tersebut datang dengan baju terbang mereka hendak mandi di sungai. Usai berganti pakaian, mereka lalu turun ke sungai dan berenang sambil tertawa bersuka ria.

Ketika hari menjelang sore, ketujuh putri raja selesai mandi. Mereka pun segera mengenakan baju terbang masing-masing lalu terbang ke angkasa. Setelah mereka pergi, Mak Toyo segera turun ke sungai lalu menepuk air tiga kali. Setelah itu, muncullah bunga bangkawali di atas permukaan air sungai. Banta Seudang pun segera terjun ke dalam sungai. Dengan susah payah, ia berenang ke tengah sungai untuk mengambil bunga bangkawali tersebut dan kemudian kembali ke tepi sungai.

“Mak Toyo! Aku sudah mendapatkan bunga bangkawali. Terima atas kebaikan, Mak!” ucap Banta Seudang.
“Ya, sama-sama. Segeralah bawa bunga ajaib itu untuk ayahmu!” kata Mak Toyo.

Keesokan hari, Banta Seudang berpamitan kepada Mak Toyo dan Jin Pari. Namun karena mengetahui perjalanan yang akan ditempuh Banta Seudang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka Maka Toyo dan Jin Pari pun bersepakat untuk mengantar Banta Seudang. Jin Pari dan Banta Seudang terbang dengan menggunakan baju terbang, sedangkan Mak Toyo menunggangg gajah putih. Dalam waktu sehari, mereka pun tiba di negeri Banta Seudang ketika hari mulai sudah gelap. Banta Seudang yang melihat rumahnya sepi dan tampak gelap, segera berteriak memanggil ibunya.

“Ibu.. Ibu! Banta sudah pulang membawa obat mata untuk ayah!” teriak Banta Seudang dari depan rumahnya.
“Ya, masuklah anakku! Ibu sedang sibuk memperbaiki lampu minyak,” teriak sang Ibu.

Banta Seudang pun masuk ke dalam rumah bersama Mak Toyo dan Jin Pari.
“Kenapa gelap begini? Di mana lampu minyaknya, Bu?” tanya Banta.
“Lampunya kehabisan minyak. Ibu baru mengisinya,” jawab sang Ibu.
Beberapa saat kemudian, lampu minyak itu pun menyala. Sang Ibu segera memeluk Banta Seudang karena sudah lama sekali merindukannya. Banta Seudang pun memperkenalkan Mak Toyo dan Jin Pari kepada kedua orangtuanya.

“Bu, ini Mak Toyo dan Jin Pari. Merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan obat mata untuk ayah,” jelas Banta Seudang.
Ibu Banta Seudang pun tidak lupa berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari yang telah membantu Banta Seudang.

“Bagaimana keadaan ayah dan Ibu selama Banta pergi?” Banta Seudang kembali bertanya.

Mendengar pertanyaan Banta, sang ibu terdiam sejenak. Dengan wajah sedih, sang Ibu kemudian bercerita bahwa selama kepergian Banta Seudang, Pakciknya tidak pernah lagi membantu mereka. Terpaksalah sang ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Betapa sedih dan terharunya Banta Seudang mendengar cerita ibunya.

“Benar, anakku! Pakcikmu memang sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah lagi memberi kami makanan. Seandainya Ayah tidak buta begini, Ayah pasti sudah menghajarnya,” sahut sang Ayah dengan geram.

“Sabar, Ayah! Banta membawakan obat mata untuk Ayah,” kata Banta menenangkan hati sang ayah.

Setelah keadaan tenang, Banta Seudang segera mengambil semangkuk air, lalu mencelupkan bunga bangkawali yang ia bawa ke dalam mangkuk. Setelah beberapa saat, ia mengusapkan air dari mangkuk itu ke mata ayahnya hingga tiga kali.
“Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!” pinta Banta Seudang.
Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika. Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya.

“Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu. Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula,” ucap sang Ayah seraya merangkul Banta Seudang.

“Seharusnya, Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu,” kata Banta Seudang.

Setelah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, sang Ayah pun membuka rahasia mengenai siapa diri mereka sebenarnya.

“Ketahuilah, anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini. Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu. Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita,” ungkap sang Ayah.

Betapa terkejutnya Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya. Ia baru mengerti bahwa ternyata ayahnya adalah seorang raja. Selama ini ia mengira bahwa pakciknya adalah seorang raja yang baik, karena telah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ternyata pakciknya adalah seorang raja yang licik dan serakah. Mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bangka Seudang pun berniat membantu ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada ayahnya. Demikian pula Mak Toyo dan Jin Pari yang setelah mendengar cerita ayah Banta Seudang, juga bersedia ikut membantu.

Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke istana. Ayah dan ibu Banta Seudang terbang bersama Jin Pari dengan menggunakan baju terbang. Sedangkan Banta Seudang dan Mak Toyo menunggang gajah putih. Sesampainya di istana, alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat kedatangan sang kakak bersama rombongannya. Apalagi setelah mengetahui kedua mata kakaknya dapat melihat kembali.

“Apa maksud kedatangan Kakak kemari?” tanya sang Raja.
“Hai, Adikku! Engkau memang adik yang tidak tahu diri. Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun. Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!” seru sang Kakak.

“Ha… ha… ha…! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja. Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!” seru sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.

Mak Toyo dan Jin Pari yang juga hadir di tempat itu sangat geram melihat keangkuhan sang Raja. Oleh karena mereka mengetahui permasalahan yang sebenarnya, maka tanpa diperintah ayah Banta Seudang, mereka langsung menyerang sang Raja. Dengan satu pukulan saja, sang Raja pun jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di depan singgasananya. Para pengawal raja yang melihat peristiwa itu, tak seorang pun yang mau membantu sang Raja, karena mereka juga mengetahui keadaan sebenarnya.

Ketika sadarkan diri, sang Raja bersama keluarganya diusir dari istana. Ayah Banta Seudang pun kembali menjadi raja menggantikan adiknya yang serakah dan angkuh itu. Akhirnya, Banta Seudang bersama keluarganya kembali tinggal di istana dan ia pun bisa bersekolah. Sementara Mak Toyo dan Jin Pari diangkat sebagai pengawal istana.
* * *


Demikian cerita Banta Seudang dari Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat berbakti kepada orangtua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras dan akibat buruk dari sifat tidak tahu diri.

Pertama, keutamaan sifat berbakti kepada orangtua. Sifat ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Banta Seudang yang telah berusaha menyembuhkan mata ayahnya.
Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

    apa tanda Melayu jati,kepada ibu bapa ia berbakti apa tanda Melayu menakah,memelihara ibu bapa tahan bersusah

Kedua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Banta Seudang. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, ia berhasil menyembuhkan mata ayahnya.

Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

    wahai ananda kesayangan ayah,bekerja jangan ingatkan susah tahankan olehmu penat dan lelah supaya kelak hidupmu menakah

Ketiga, akibat buruk dari sifat tidak tahu diri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Pakcik Banta Seudang. Ia diberi kekuasaan untuk menduduki tahta kerajaan, malah justru mengabaikan kakaknya. Akibatnya, ia pun diusir dari istana ketika mata kakaknya sembuh dari kebutaan.

Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:[1]

    apa tanda orang celaka,tak tahu diri besar kepala bila bercakap mengada-ada bila bekerja tidak menyudah

    apa tanda orang terbuang,tak tahu diri iman pun kurang bergaul tidak tahu menenggang berjalan seiring ia menendang

[1]Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel

Kamis, 16 Maret 2017

Si Kancil dan si Raja Kera

Si kancil..Pasti kalian sudah tak asing lagi dengan nama ini.
Namanya telah melegenda dari waktu ke waktu,di ceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Si kancil yang terkenal cerdas,cerdik,lincah,licik,dan juga banyak akal. 

Memang patut kalau dirinya menjadi sebuah legenda yang patut untuk selalu di ceritakan,dan kali ini..Si kancil akan berpetualang dalam sebuah kisah yang sama,tapi alur ceritanya mungkin berbeda..

Duduk dan nikmatilah kisah ini dengan seksama,ketika waktu di mana kisah the Legend of si Kancil di mulai... 

Pada zaman dahulu di alas purwa terdapat sebuah desa kecil tempat para binatang yang bernama alas bongas.

Di desa itu di huni oleh beberapa keluarga binatang.

Dan salah satunya adalah keluarga pak Kanca.

Keluarga pak kanca adalah keluarga kancil,dia hidup bersama isterinya yang bernama Cileungsi.

Pada waktu itu Cileungsi atau sebut saja bu kanca,tengah hamil tua.

Dan pada hari yang di sudah tunggu-tunggu oleh keluarga kecil itu,ahirnya lahirlah seekor bayi laki-laki yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecil itu.



"Kita kasih nama siapa bu?".Tanya pak kanca.

"Bagaimana kalau kita beri nama KANCIL saja pak?".Jawab bu kanca.

"Lho?Bukanya itu nama jenis bangsa kita bu?Apa tidak terlalu aneh?".Kata pak kanca heran.

"Hahaha..Kenapa harus heran pak? Nama adalah sebuah do'a..Dan ku harap dengan memberi anak kita nama Kancil,suatu saat nanti dia bisa menjadi orang besar yang membuat jenis kita selalu di ingat dari waktu ke waktu.

Lagi pula..Itu juga gabungan dari kedua nama kita..KANca dan CILeungsi,di gabung jadi KANCIL..".Kata bu kanca.

"Hehehe..Benar juga kata mu bu.Aku setuju dengan nama itu..Yah,moga-moga saja ketika dia besar nanti dia mewarisi kecerdasan ibunya.. :) ".Kata pak kanca.

"Dan juga kelincahan dan kegesitan bapaknya.. "^_^"...".Sambung bu kanca menimpali.



Dan sejak saat itu,di mulailah kehidupan si kancil yang di didik dengan kasih sayang oleh keluarganya.

Dia tumbuh menjadi kancil yang cerdas dan lincah,dan di desa kecil itu pun si kancil selalu terlihat menonjol di antara anak-anak binatang lain.

Bahkan di sekolah pun si kancil terkenal sebagai anak yang cerdas,bahkan dia selalu mendapat ranking satu.

Yah..Walau tak dapat di pungkiri dia juga sedikit nakal dan bandel karena terlalu ceroboh dan mudah penasaran.

Itu semua tak lepas dari kemampuanya membagi waktu antara bermain dan waktu belajar.





Pada suatu hari sepulang sekolah,si kancil mengajak teman-temanya untuk berjalan-jalan keluar desa.

Dia sangat penasaran dengal hal apa saja yang ada di luar desanya.

Si buny kelinci dan si ranggo tupai yang selalu menjadi teman setianya mengikutinya dari belakang.



"Cil..Apa kita tak terlalu jauh dari desa?Yuk kita pulang saja yuk..Aku takut..".Kata si buny.

"iya cil..Kata ibu ku,area di luar desa tidak aman.Daerah ini di kuasai oleh para bandit yang di juluki the gorilazer..".Kata tupai menimpali.

"Halah..Kalian gak usah takut,kan ada aku..Emangnya ada apa dengan para gorilazer itu?".Tanya kancil.

"Mereka itu adalah kelompok kera yang suka menjarah,kadang mereka juga masuk ke desa kita.

Pimpinan mereka sangat menyeramkan,bertubuh besar dan bermata satu.

Ceritanya dia pernah tertangkap oleh pemburu dan satu matanya terkena panah,tapi dia dapat lolos.

Itulah yang membuatnya sangat di takuti dan di segani,karena sangat jarang yang bisa lolos dari pemburu hidup-hidup..".Kata ranggo tupai menjelaskan.

"Ah..Masa? Kalo cuma lolos dari pemburu saja..Itu urusan kecil..".

"Jaga mulut mu bocah..Kau tak tahu di mana kau berada.Ini daerah kekuasaan ku".Tiba-tiba sebuah suara memotong perkataan kancil.

Dalam sekejap tempat itu telah di kepung para kera,dan seekor gorila melompat turun menghampiri kancil dan kawan-kawan.



"Sungguh anak kecil yang pemberani tapi ceroboh..Kau berani menghina ku di daerah kekuasaan ku..".Kata gorila itu.



"Lho..Memang kau ini siapa? Emang hutan ini milik bapak mu?".Jawab kancil santai,sementara kedua temanya menggigil ketakutan di belakangnya.



"Lancang sekali kau bocah..!! Lihat baik-baik diri ku..Dengan mata satu dan tubuh yang besar dan kuat.Nama ku melegenda..Akulah hewan terkuat di wilayah ini,akulah satu-satunya hewan yang mampu lepas dari para pemburu..Akulah pimpinan the gorilazer,akulah..The King KONG..!!".Jawab gorila itu dengan penuh gaya..



"huuaah..Sampai ngantuk aku dengernya..Udah ngocehnya? Terus kalau kamu pimpinan gorilaz alias gorila malaz,emangnya kenapa?

Terus kalo kamu punya nama the king kong raja kera emang kenapa?

Terus kalo kamu pernah bebas dari para pemburu aku harus apa?

Harus bilang "Wooww..!!" gitu?

Sudahlah paman,paman kong gak usah sok nakut-nakuti aku.

Lagian semua kisah tentang paman juga belum ada buktinya..Kalo cuma kabur dari pemburu saja aku juga bisa paman.

Jangankan cuma di tangkap,di bawa sampai rumah mereka saja aku juga masih bisa pulang..".Raja kong sangat terkejut mendengar jawaban kancil itu,bahkan semua kera dan kedua teman kancil ikut melongo di buatnya.



"Hmm..Besar juga mulut mu bocah..Kalau begitu,bagaimana kalau kita bertaruh untuk membuktikan ocehan mu..".Kata raja kong.

"Boleh..Emang taruhan paman apa kalau aku menang?

Dan pastinya sih aku bakal menang.. :p ".Jawab kancil enteng.

"hahaha..Aku suka gaya mu bocah..Sangat percaya diri dan bersemangat..Tapi juga sangat ceroboh..

Baiklah..Apapun yang kau minta katakan pada ku..".

"Oke..Aku gak minta yang aneh-aneh..Aku cuma minta kalau aku menang,paman dan para gerombolan paman tidak boleh jadi bandit lagi.Dan tentunya tidak boleh menjarah barang yang bukan haknya,mulailah hidup dengan baik..

Dan yang kedua..Jika aku berhasil lolos,paman dan para gerombolan paman..Harus menceritakan kisah tentang diri ku kesemua penjuru hutan purwa ini.Agar semu tahu tentang kisah ku..

Bagaimana paman kong? Setuju?".Tanya kancil.

"Hahaha..Dasar kau bocah yang aneh..Kau mempertaruhkan nyawa mu hanya untuk hal sebodoh itu? Kau tak berminat jadi raja menggantikan ku?".

"Tidak paman..Cuma itu aja..Lagian aku juga gak minat jadi raja..Kebanyakan mikir,takut botak.

Dan lagi takut gendut karena kebanyakan makan,contohnya seperti perut paman..Hehehe".Kata kancil.



"Huahahahaha..Gue suka gaya loe bocah..Baru kali ini aku bertemu bocah bernyali besar seperti mu..Baiklah,aku sanggupi permintaan mu..

Sekarang buktikan semua ocehan mu barusan..Atau kau akan menyesal karena telah berani mempermainkan aku..".Ancam Raja kong.



"Oke..Siapa takut..Sekarang antar aku di mana tempat perangkap para pemburu..".Kata kancil menyanggupi.



"Cil..Kamu yakin mau melakukan ini?

Itu sangat berbahaya lo cil,sama saja kamu mengantar nyawa.

Lebih baik kita lari saja dan pulang ke desa".Bisik buny dan ranggo pada kancil.



"kalian tenang saja kawan-kawan..Aku pasti baik-baik saja.

Aku punya seribu satu rencana,kalian tak usah hawatir.

Kalian tunggu saja aku di sini..".Kata kancil menenangkan kedua temanya.





Ahirnya dengan di pandu seekor kera anak buah raja kong,si kancil berjalan menuju tempat perangkap berada.

Perjalanan yang lumayan jauh,karena letak perangkap itu berada di pinggiran hutan.





"Nah..Kita sudah sampai,aku hanya bisa mengantar mu sampai sini saja.

Itu dia letak perangkapnya..Kamu lihat daun-daun kering itu?

Jika kamu menginjaknya..Maka sebuah akan menjerat kaki mu hingga kau akan terperangkap..

Aku akan mengawasi mu dari sini untuk memastikan kamu benar-benar terperangkap oleh tali itu,kemudian aku akan pergi menghadap raja kong untuk melapor".Kata kera pemandu itu menjelaskan.



"Ok..Cuma hal yang simpel..Baiklah,kamu tunggu di sini.

Aku akan menuju ke arah perangkap itu..Gitu aja kok repot".Kata si kancil sambil berlalu.





Kemudian si kancilpun menuju ke arah perangkap itu dan menginjaknya,hingga kakinya terjerat dan terikat terbalik di atas pohon.

Setelah memastikan si kancil benar-benar terjebak dan tak dapat lepas,kera pemandu pun kembali untuk melapor ke raja kong.



"hmm..Jadi bocah itu benar-benar melakukanya?".Tanya raja kong.



"Benar bos..".Jawab kera pemandu.



"Benar-benar bocah yang bernyali besar,aku salut dan akan berkabung untuk kematianya sebagai ungkapan rasa penghormatan ku..".Kata raja kong.



Sementara buny dan ranggo hanya bisa menangisi nasib yang menimpa kancil.

Mereka tak mengira si kancil akan mati dengan cara yang mengenaskan.





Sementara itu di tempat lain..Si kancil masih tergelantung di atas perangkap.

Sudah berkali-kali dia berusaha melepaskan diri,tapi tetap tak berhasil melepaskan kakinya dari jerat tali itu.



"Ternyata tali ini benar-benar erat..Aku tak mampu lepas sendiri.Wah..Bisa-bisa aku benar-benar tertangkap pemburu nih..Aku harus cepat-cepat cari akal..".Gumam kancil.



Ketika sikancil sedang berfikir keras,tiba-tiba tiga ekor merpati hinggap di pohon itu.



"Kamu sedang apa cil?Kenapa kamu bisa ada di tempat ini?Ini kan sudah terlalu jauh dari desa..".Tanya ketiga merpati itu serentak.



Kancil seperti mengenali suara itu,itu seperti suara teman sekelasnya.

Lalu dia pun melihat ke atas pohon..



"Dara,Deri,Dora?! Kenapa kalian bisa ada di sini?".Kata kancil senang sekaligus terkejut.



"Kami baru saja pulang dari rumah paman Kurkur,lalu kami melihat mu tergelantung dan kami lalu ke sini.

Memangnya ceritanya gimana kok sampai kamu bisa terjebak di perangkap ini?".Tanya si dara.



Lalu kancil pun menceritakan semua hal yang dia alami bersama buny dan ranggo kepada ketiga sekawan itu.



"Nah..Kalian sudah tahu ceritanya.Sekarang aku membutuhkan bantuan kalian sebelum para pemburu datang..".Pinta kancil.



"Apa yang bisa kami lakukan untuk mu cil?".Tanya Dora.



"Kalian buanglah kotoran di tubuhku sebanyak-banyaknya,kalau bisa lumuri seluruh tubuh ku dengan kotoran kalian.

Kalian tak usah tanya alasanya apa,yang penting lakukan saja.

Dan setelah itu,cepat-cepat kalian pergi sebelum para pemburu datang..".Perintah kancil.



Tiga sekawan burung dara itupun segera melakukan perintah si kancil,setelah semua selesa dan di rasa cukup..Mereka kemudian terbang meninggalkan si kancil..





Lalu..Apa sebenarnya rencana si kancil?

Eits..Baca dulu dengan sabar.. "^_^"





Tak lama setelah tiga dara sekawan pergi,para pemburu datang.

Mereka melihat tubuh si kancil yang tergantung terkena perangkap mereka.



"Hei lihat apa yang kita tangkap..Seekor kancil..".Kata pemburu A.



"hmm..Tapi sepertinya kancil itu sudah membusuk,mungkin sudah beberapa hari dia terjebak dan mati kelaparan.

Kita kan sudah hampir satu minggu tidak melihat perangkap gara-gara kita pergi ke kota menjual hasil panen.

Lihat saja..Tubuhnya sudah berbau busuk dan di kerubungi banyak lalat..".Kata pemburu B.



"Wah..Sepertinya benar kak..Lalu mau kita apakan bangkai ini?".Tanya pemburu A.



"Ya kita turunkan lalu kita buang ke hutan biar di makan harimau,memangnya bangkai busuk mau kita apakan lagi?Setelah itu kita pasang lagi perangkapnya..".Jawab pemburu B.



"Baik kak..".Kata pemburu A kemudian melepaskan tali perangkap yang menjerat si kancil.

Kemudian tubuh si kancil mereka gotong dan di buang ke hutan kemudian mereka tinggalkan.

Setelah memastikan para pemburu sudah pergi,si kancil yang dari tadi pura-pura mati segera bangun.

Dia merasa lega karena rencananya benar-benar berhasil.

Si kancilpun kemudian membersihkan diri di sungai dan pulang menemui raja kong untuk menagih taruhan mereka.



Kontan saja para kera dan kedua temanya di buat terkejut dengan kembalinya si kancil,lebih-lebih raja kong.

Dia hampir tak percaya dengan apa yang di lihatnya,bahkan sikancil bisa pulang tanpa ada luka sedikit pun..





"Hai paman kong..Sekarang tepati janji mu..Lihat,aku menang taruhan seperti yang ku katakan..Hehehe ".Kata kancil.



"Ba..Ba..Bagaimana kau bisa lolos? Sungguh di luar duga'an..Tak masuk akal..".Tanya raja kong tergagap tak percaya.





"hehehe..Sudah..Tak perlu aku jelaskan.Sekarang yang penting aku sudah membuktikan omongan ku dan sekarang paman harus menepati janji paman..Simpel,gitu aja kok repot.. ^_^ ".Jawab kancil.



"Hahahaha..Kau memang punya banyak kejutan bocah..Sebagai raja,aku akan menepati janji ku.

Aku dan semua rakyat ku tidak akan menjarah lagi..Dan aku akan menyebarkan semua kisah mu keseluruh pelosok hutan,agar mereka mengal mu dan mengetahui akan kehebatan mu.

Tapi bocah..Aku belum tahu siapa nama mu..Dan harus ku panggil apa diri mu dalam cerita ku?".Tanya raja kong.



"Sebut saja nama ku..KANCIL.. :) ".





Lalu setelah kejadian itu,kancilpun mengajak kedua temanya kembali ke desa.

Sungguh petualangan yang melelahkan..Rasanya rumah adalah tempat yang nyaman untuk istirahat sejenak.

Sebagai persiapan menghadapi petualangan baru di hari esok..

Dalam petualangan yang lain..Dalam kisah yang lain pula.. "^_^"





The End



story by: Muhammad Rifa'i